Jakarta, NAWACITAPOST.COM - DKI Jakarta menjadi wilayah dengan kualitas udara terburuk di dunia. Per hari ini Rabu (15/6), konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta meningkat 26,2 kali dari batas pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berdasarkan laporan Air Quality Index (AQI).
Angka tersebut masuk dalam kategori merah di laman AQ Index yang artinya tidak sehat.
Seperti diketahui, PM 2.5 merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer). Jika terhirup, PM 2.5 bisa berbahaya khususnya pada sistem pernapasan, sehingga bisa muncul sesak napas, iritasi mata, hingga hidung.
Namun, pada pukul 16.00 WIB, indeks kualitas udara di DKI Jakarta sudah mulai menurun ke angka 66 US AQI atau masuk kategori sedang.
"Konsentrasi PM 2.5 di udara Jakarta saat ini 3,8 kali di atas nilai panduan kualitas udara tahunan WHO," demikian keterangan dalam laman tersebut, Rabu.
Di laman itu juga disebutkan bahwa cuaca di Jakarta tengah hujan dengan suhu 31 derajat celsius, kelembapan 66 persen, angin 27,8 km/h, dan tekanan 1009 mb.
Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan menjelaskan penyebab cuaca di Ibu Kota bisa disebut tidak sehat pada pagi tadi.
Menurut dia, berdasarkan data dari stasiun pemantauan kualitas udara (SPKU) yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup pada 15 Juni 2022 sejak dini hari, kelembapan terbilang cukup tinggi, sedangkan suhunya rendah.
Akibatnya, polutan pencemar udara terakumulasi di lapisan troposfer.
"Maka akan terlihat kondisi kualitas udara seperti kabut, didukung juga dengan cuaca yang mendung," kata Yogi kepada wartawan, Rabu.
Dalam laporan real time AQI per 11:30 WIB, ada sepuluh daerah dengan polusi udara tertinggi di DKI Jakarta yakni:
- TJ Depo Pesing
- Thamrin Residences Apartment
- AHP- Capital Plaxe
- Wisma Barito Pacific
- RespoKare Mask - Wisma 76
- Widya Chandra, JK
- Jalan Hayam Wuruk
- Gading Harmony
- Wisma Matahari Power
- TJ Depo Rawa Buaya