Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando EMaS menilai terdapat dua pertimbangan reshuffle mendesak ini dilakukan. Pertama Presiden dinilai perlu menyiapkan tenaga pembantu untuk penanganan Covid-19 jenis Mu agar tak kebobolah seperti periode Juli hingga Agustus lalu.
Baca Juga : Cadangan Devisa Agustus Meningkat, Stabilitas Ekonomi Terjaga
"Jokowi perlu menyiapkan para pembantunya untuk lebih siap menghadapi varian Covid-19 jenis Mu," kepada media, Rabu (08/09/2021).
Kemudian yang kedua dikaitkan dengan masuknya PAN sudah cukup menjadi alasan bagi Presiden Jokowi untuk menata ulang kabinet dan mengakomodir PAN yang baru masuk koalisi. "Kan, PAN resmi bergabung ke koalisi beberapa waktu lalu," katanya.
Namun disisi lain, juru bicara Presiden, Fdjroel Rachman membantah isu perombakan kabinet dan menyatakan belum ada pembahasan soal reshuffle yang kembali ramai diperbincangkan.
"Nah tidak ada pembicaraan mengenai reshuffle, tidak ada. Reshuffle itu adalah hak prerogatif Presiden, tapi saya sampai hari mengatakan presiden dan seluruh menteri dalam kabinet Indonesia Maju itu fokus menangani Covid-19, terutama perlindungan sosial, pemulihan ekonomi, dan kesehatan," kata Fadjroel saat dikonfirmasi, Rabu (08/09/2021).
Simak informasi lainnya di Youtube kami !
https://youtu.be/VB7bfDydGEo