Kegagalan menjadi pengalaman hingga tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya. Kesempatan untuk diberikannya ruang kreativitas hak semua manusia tak terkecuali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Gunungsitoli. Tangan Tuhan berkarya untuk WBP melalui lapas dengan merubah duka menjadi peluang usaha setelah menjalani masa binaan.
-
Lapas Gunungsitoli melakukan pembinaan kemandirian kepada WBP agar lebih memiliki keterampilan sehingga dapat diterapkan untuk mencari penghasilan yang halal selepas dari pembinaan di lapas. Salah satu pembinaan kemandirian WBP Lapas Gunung Sitoli adalah pelatihan membatik Nukha Nibira.
Baca juga: Lapas Gunungsitoli Menjadi Satu-satunya Lapas yang Produksi Batik Tulis Nias
Yuslian Harefa, sosok perempuan dari pulau Nias mengubah objek dari pandangan mata berpadu kecerdasan dan diluangkan ke dalam pola refleksi kehidupan serta kearifan lokal guna menghasilkan Nukha Nibira.
-
Yuslian mengubah sebuah kain putih hingga memiliki nilai lebih dan nilai luhur dengan upaya memperkenalkan serta melestarikan kebudayaan Nias ke khalayak melalui Nukha Nibira.
Lalu bagaimana dengan nilai ekonomis Nukha Nibira? Sudah tentu dampaknya berubah berkali-kali lipat yang akhirnya menjadi pendapatan penghasilan baru dan menjadi berkat bagi yang melihat, memakai dan yang membuat.
-
-
Dalam Nukha Nibira, segala potensi yang ada dijadikan ornamen kekinian, namun tetap selaras akan nilai-nilai luhur yang terkandung. Di setiap motif ornamen Ni’Ohulayo, melambangkan perjuangan hidup yang diukir seperti mata tombak secara sederhana. Dibentuk seperti segitiga lancip yang tidak sama sisi. Ornamen ini banyak dijumpai pada dinding rumah adat Nias dan pahatan batu serta masih banyak lainnya.
Yuslian berharap, dengan adanya pembinaan kemandirian Nukha Nibira, WBP memiliki harapan hidup untuk kedepannya sehingga bias berguna saat mereka sudah selesai menjadi warga binaan.
“Memanusiakan manusia itu anggapan orang-orang diluar. Yang namanya masuk penjara itu sudah tidak ada lagi harapan hidup. Setelah mereka ikut dalam pembinaan kemandirian ini mereka merasa bahwa mereka itu sebenarnya bukan terpenjara. Hanya mereka tersesat dan setelah adanya pembinaan mereka memiliki harapan hidup untuk kedepan, sehingga bisa berguna bila sudah selesai masa pembinaan di dalam Lapas,” ucap Yuslian dilansir dari Youtube Lapas Gunungsitoli.
“Mereka juga dalam menjalani masa pembinaan di lapas, mereka tidak merasa jenuh. Kenapa? Karena jika mereka di dalam terus, mereka merasa satu hari satu malam terlampau Panjang. Tapi kalau bekerja terus menerus dari pagi hingga sore tidak terasa bahwa jam sudah menunjukan sore, jadinya tidak ada berfikir aneh-aneh,” lanjut Yuslian.