ADALAH KESALAHAN SEJARAH YANG SANGAT FATAL BILA DIKATAKAN BAHWA UJUNGGALUH BERADA DI BAGIAN HILIR SUNGAI. MENURUT PRASASTI KAMALAGYAN, UJUNGGALUH BERADA DI HULU SUNGAI.
Setiap kali berbicara tentang (Pelabuhan) Ujung Galuh, maka yang muncul dalam benak adalah:
1. Kota Surabaya.
Karena Ujung Galuh sudah dianggap identik dan sebagai cikal bakal atau nama kuno kota Surabaya. Informasi ini bersumber dari hasil kajian Drs. Heru Sukadri, Kepala IKIP Surabaya kala itu, yang terlibat sebagai Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya (1975).
Kutipan ini tertuang dalam buku Hari Jadi Kota Surabaya (1975).
2. Kontroversi.
Karena di Surabaya tidak memiliki jejak yang dapat dipakai sebagai acuan otentik akan keberadaan Ujung Galuh. Justru keberadaan itu teridentifikasi dan diduga di luar Surabaya seperti di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Kab. pasuruan dan kab. Mojokerto. Di sana terdapat tanda tanda arkeologis maupun toponimi akan keberadaan pelabuhan sungai. Meski keberadaan itu masih belum dapat disimpulkan sebagai letak pelabuhan Hujung Galuh.
Pertanyaannya: Lantas dimanakah Ujung Galuh itu?
Untuk menjawab itu, hanya ada satu sumber otentik yang dapat dipakai sebagai dasar acuan. Yakni Prasasti Kamalagyan. Parasati ini menyebut nama Hujung Galuh, tepatnya pada barus ke 12 dan ke 13.
Prasasti Kamalagyan adalah sebuah prasasti yang berangkat tahun 959 Saka atau 1037 M, berlokasi di dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Prasasti buatan Raja Airlangga ini menceritakan tentang pembangunan sebuah "dawuhan" atau bandungan (dam) di Wringin Sapta di daerah Balungbendo.
Khususnya pada baris ke 12 prasasti Kamalagyan berbunyi: " kapwa ta sukhamanaḥ nikāŋ maparahu samaṅhulu maṅalap bhāṇḍa ri hujuŋ galuḥ, tkarikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara", yang artinya semua orang bergembira, dan berperahu (lah) menuju HULU, untuk mengambil barang dagangan di Hujung Galuḥ. Di sana datang (pula) para nahkoda dengan kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar.
Pada inskripsi ini terdapat petunjuk penting, yakni:
1. Samanhulu (=Menuju HULU)
Pesan ini merujuk kepada adanya aktivitas yang bergerak di sungai (yaitu perahu) dari desa Wringin Sapto menuju ke arah hulu sungai hingga ke (Pelabuhan) Hujung Galuh.
2. Ri Hujuŋ Galuḥ (=Di Hujung Galuh).
Hujung Galuh ini merujuk pada sebuah tempat, yaitu pelabuhan. Lantas dimanakah (pelabuhan) Hujung Galuh yang dimaksud dalam prasasti ini?
Kalau kita perhatikan, ke arah hulu, yang diawali dari desa Wringin Sapto, di sana terdapat pelabuhan sungai besar, yang kemudian menjadi pelabuhan utama Majapahit. Namanya Pelabuhan Canggu.
Saking besarnya, Pelabuhan ini bisa disinggahi oleh kapal kapal besar yang berasal dari pulau pulau di Nusantara. Bahkan pelabuhan ini menjadi pelabuhan antar pulau (dwīpāntara).
Di era Majapahit (abad 14-16) pelabuhan Canggu menjadi salah satu penopang kemakmuran Majapahit. Pelabuhan ini
mempunyai fungsi yang beragam diantaranya sebagai pangkalan militer,
pelabuhan dagang, dan bahkan pelabuhan bea cukai.
Di pelabuhan sungai inilah, yang diduga sangat kuat, menjadi wujud deskripsi pelabuhan Hujung Galuh sebagaimana terinsktipsi pada prasasti Kamalagyan (abad XI) baris ke-12, yang bunyinya: "tkarikāŋ parapuhawaŋ prabaṇyaga sankāriŋ dwīpāntara". Artinya Di sana datang (pula) para nahkoda dengan kapal kapal dagang dari pulau pulau sekitar.
Sementara orang orang dari Wringin Sapto
"mapaharu" yang artinya cukup berperahu (memakai perahu) ke Hujung Galuh karena perahu menjadi alat transportasi warga untuk mobilisasi antar desa desa pelabuhan sungai (naditira pradesa) yang ada di sepanjang sungai Brantas.
Ketika mereka berperahu dari Wringin Sapto ke arah hulu menuju Hujung Galuh berarti mereka semakin menjauh dari muara (laut), dimana Surabaya berada. Fakta alami ini jelas menggugurkan pendapat yang selama ini diyakini bahwa Hujung Galuh berada di muara Kali Brantas (hilir), tepatnya di Surabaya, sebagaimana ditulis oleh Drs. Heru Soekadri dalam laporan ilmiahnya pada buku Hari Jadi Kota Surabaya (1975).
Adapun yang ditulis oleh Heru Soekadri adalah sbb.
1. Hujunggaluh terletak di kali Brantas yang mengalir ke utara setelah bercabang tiga.
Atau jelasnya dapat dikatakan bahwa Ujunggaluh terletak di kali Surabaya.
2. Ujunggaluh terletak di bagian hilir kali Surabaya sesudah Dukuh Kelagen (Krian). Atau dapat dikatakan pula bahwa Ujunggaluh berada di Kali Surabaya bagian sebelah utara Dukuh Kelagen (Krian).
Kesimpulan Heru Soekadri yang mengatakan bahwa Ujunggaluh berada di bagian hilir kali adalah keliru besar. Terlihat kalau ada unsur yang dibuat buat. Dalam prasasti Kamalagyan, Ujunggaluh tersebut jelas berada di bagian hulu kali. Bersambung...
(Nng).