Foto : Wali Kota Pekalongan Aaf bersama jajaran, Dirjen Perhubungan Udara, Otoritas Bandar Udara Wilayah 3 dan Air Nav
Wali Kota Pekalongan mengatakan. Bahwa harapannya ingin Kota Pekalongan bisa zero penerbangan. “Ya Alhamdulillah pada sore hari ini kegiatan sosialisasi sekaligus pengukuhan pengurus Sedulur Balon. Ya harapannya tetap seperti tahun – tahun sebelumnya. Bahwa kita menekan kalau bisa sampai zero penerbangan balon liar. Memang pada tahun ini volume lalu lintas udara ini memang jauh berkurang. Akan tetapi itu tidak menjadikan alasan bahwa balon liar ini juga bisa terbang. Nah kita bukannya membatasi, bukannya tidak membolehkan balon liar,” ungkapnya.
-
“Cuma kreativitas warga dengan budaya penerbangan balonnya tetap ada ketentuan dan syarat berlaku. Jadi tidak boleh terbang tinggi. Terbang harus ada tali maksimal 150 meter. Nah ini ketentuan – ketentuan pada tahun ini Pemerintah Kota Pekalongan beserta petugas gabungan dari TNI, Polri, semuanya ini akan menindak tegas warga yang ketahuan menerbangkan balon liar. Sebab ini sangat membahayakan. Bukan hanya pada tahun ini, tetapi pada tahun – tahun depan kalau situasi dan kondisi normal, balon liar ini jelas tidak diperbolehkan. Boleh karena ini sudah menjadi tradisi, sudah menjadi budaya. Tapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku,” tambah Aaf.
-
Aaf bersama Pemerintah Kota Pekalongan pun berterima kasih ke Air Nav yang membantu dengan memberikan CSR perusahannya. “Ini mudah – mudahan kita Pemerintah Kota Pekalongan berterima kasih kepada Air Nav. Karena yang tidak berhenti mensupport untuk kesuksesan festival balon di Kota Pekalongan. Pada tahun ini memang tidak diadakan. Tetapi CSR mereka tetap ada untuk teman – teman Sedulur Balon ya. Mudah – mudahan mereka juga bisa berkreasi dan membikin usaha untuk gerobak angkringan. Ini mudah – mudahan Komunitas Balon sendiri bisa, teman – teman Sedulur Balon bisa berdaya,” ungkapnya.
-
“Alhamdulillah saya juga rutin bertemu dengan teman – teman Komunitas Balon. Harapan mereka, event – event tidak hanya setahun sekali. Tetapi mungkin event di hari Batik, event di Hari Jadi Kota Pekalongan, mereka juga tampil. Tapi situasi dan kondisi pandemi memang belum memungkinkan. Mudah – mudahan tahun ini belum bisa, tetapi tahun depan bisa terlaksana. Tentunya warga kalau memang ingin terlaksana ya harus bekerja sama. Dalam arti, menjaga protokol kesehatan. Supaya Covid atau Corona ini bisa betul – betul hilang dari Kota Pekalongan. Supaya kegiatan – kegiatan semuanya bisa normal,” imbuh Aaf.
-
Achmad Afzan Arslan Djunaid pun mengimbau bahwa pelarangan tidak hanya ditujukan untuk balon liar. “Bukan hanya balon udara pada tahun ini, tetapi Lopis Raksasa juga Halal Bi Halal terus Open House, semuanya tidak boleh dilakukan pada Lebaran tahun ini. Sanksi tegasnya kita sudah ada, pembinaan atau ancaman kurungan kalau memang itu dalam kategori pelanggaran berat ya. Karena ini sudah kita himbau. Jadi tidak ada alasan warga kita tidak tahu. Tidak ada alasan. Kita sudah sosialisasi. Ini kan harapannya sampai Lebaran plus 7 atau Syawalan itu puncaknya,” tukasnya.
-
Sementara, Yohanes Sirait mengatakan bahwa memang peran Pemerintah Kota Pekalongan sangat berpengaruh untuk Kota Pekalongan semakin minim penerbangan balon liar. “Ya jadi kita bersyukur bahwa angka balon liar terus menurun ya. Memang tahun lalu dan tahun ini karena pandemi tidak ada kegiatan yang masif seperti festival. Tapi angkanya sebelum pandemi pun sudah menurun. 2019 terjadi penurunan yang signifikan. Kami mengapresiasi langkah dari Pemkot Pekalongan. Khususnya pak Wali Kota yang terus memberikan perhatian, memberikan waktu untuk bertemu masyarakat menyampaikan ini,” katanya.
-
“Jadi kita berharap supaya tidak ada lagi balon liar. Tadi kami juga diskusi dengan Kepolisian, dengan para aparat. Bahwa kalau balon liar itu jelas ya. Bahwa itu dilarang dan ada sanksinya. Hukumannya jangan sampai itu terjadi, kami berharap. Nah untuk yang lain Komunitas yang memang kreativitasnya ada, tapi karena pandemi demi protokol kesehatan kita tidak bisa melakukan itu. Tapi itu tadi bentuk perhatiannya adalah kan balon ini cuma setahun sekali, lalu Komunitas apa yang dilakukan? Nah itu dari CSR perusahaan kita menggerakkan kegiatan ekonomi bersama dengan mereka. Disini anak muda lagi suka ngumpul ya, UMKM. Jadi teman – teman Komunitas diberikan support, diberikan badan usaha, angkringan,” lanjut Yohanes Sirait.
BACA JUGA: Disinyalir Pelabuhan Teluk Dalam Nias Selatan, Pintu Masuk Barang Tanpa Kantongi Izin
Humas Air Nav pun berharap bisa adanya manfaat berdaya bagi masing – masing orang yang tergabung dalam Komunitas tersebut. “Sehingga mereka bisa berdaya ya. Jadi bukan hanya sekali setahun. Tapi setiap saat mereka juga bisa berusaha. Lalu kemudian juga memberdayakan ekonomi. Sehingga mereka itu dampaknya bisa lebih luas terhadap zero balon udara liar. Karena traffic penerbangan tidak seperti biasa. Tapi sekarang sudah mulai meningkat ya. Kita harap jangan sampai ada balon liar. Supaya tidak ada laporan pilot. Karena udara yang ada diatas Kota Pekalongan ini sangat padat. Bahkan penerbangan Internasional juga terbang diatas sini,” ucapnya.
-
“Jadi Pekalongan itu ruang udaranya wajah Indonesia. Perlu kita jaga keselamatannya. Supaya selamat penerbangan dan citra Indonesia di penerbangan Internasional juga tetap baik. Sebelum pandemi ya, kalau tahun 2019 dibanding tahun sebelumnya 2018, ada 80 persen. Angkanya itu hanya belasan di tahun 2019, sebelumnya itu ada puluhan laporan. Laporan pilot itu turun dari sebelumnya, signifikan sebenarnya. Kalau dibanding tahun lalu, lebih turun lagi. Tapi kan tahun lalu ada aspek pandemi ya," kata Yohanes Sirait.
-
Yohanes Sirait juga menekankan. Bahwa jangan sampai ada lagi balon udara liar yang diterbangkan. "Tapi meskipun tidak pandemi, kita berharap jangan. Makanya kita support Komunitas. Supaya menggalang sebanyak mungkin pegiat balon. Harapannya kalau dalam Komunitas, mereka tahu bahayanya. Karena memang ini kan banyak yang belum tahu ya. Saya, kami yakin sekali kalau masyarakat tahu bahayanya maka tidak akan ada yang menerbangkan balon liar. Karena memang membahayakan manusia,” tandasnya. (Herdy Ramahwan/Ayu Yulia Yang)