Kamis, 4 Juni 2026

Menko PMK Ajak Ambil Ibrah Pembatasan Ramadan Kedua karena Pandemi

Photo Author
Famati Ndruru, Nawacita Post
- Jumat, 30 April 2021 | 16:18 WIB
> Hadir via Daring Nuzulul Quran Nahdatul Wathan (NW)

JAKARTA, NawacitaPost - Bulan Ramadan kali ini adalah Ramadan kedua yang kita jalankan dalam suasana pandemi Covid-19. Masih adanya wabah menyebabkan berbagai tradisi di bulan Ramadan masih dibatasi, seperti salat tarawih dengan pembatasan jamaah, sampai tidak diperbolehkannya mudik Lebaran.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, Allah SWT menciptakan keadaan yang tidak menyenangkan ini dengan menyisipkan hikmah di baliknya.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber secara daring pada acara
Khotmil Quran Dalam Rangka Peringatan Nuzulul Quran 1442 H yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, pada Kamis (29/4).

"Karena pasti Allah setiap membuat kejadian pasti di baliknya ada hikmah. Dan hanya orang yang beriman, orang yang bertakwa yang bisa mengambil hikmah dengan sebaik-baiknya," ujar Muhadjir.

Menko PMK mengajak umat Islam untuk mengambil ibrah (pelajaran) dari pandemi Covid-19. Di antaranya yaitu dengan selalu disiplin protokol kesehatan, serta meraih hikmah Ramadan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT .

"Marilah pada kesempatan ini kita betul-betul menjadi umat yang bisa mengambil hikmah dari wabah dengan terus mematuhi hidup yang disiplin terhadap kesehatan terutama mematuhi protokol kesehatan, selalu menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan menghindari kerumunan," pesannya.

"Serta kita harus meningkatkan toleransi, gotong-royong taawun dan terus menunjung tinggi asma Allah SWT," imbuh Muhadjir.

*Maknai Kebangkitan Tanah Air*
Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK memberikan pujian terhadap organisasi Nahdlatul Wathan. Organisasi yang dibentuk oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tanggal 1 Maret 1953 tersebut dinilainya sudah banyak sekali kontribusi dan sumbangsih untuk Islam dan bangsa ini.

"Sesuai dengan namanya Nahdlatul Wathan, nahdlah berarti kebangkitan pergerakan, pembangunan, al-wathan berarti tanah air atau negara, jadi Nahdlatul Wathan adalah kebangkitan tanah air, pembangunan negara atau membangun negara," ujarnya.

Muhadjir mengatakan, Nahdlatul Wathan juga telah turut andil dalam mengahantarkan Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan.

"Kemerdekaan dalam artian merdeka dalam berfikir, bersosial dan bebas untuk menyampaikan dakwah-dakwah Islamiyah yang berlandaskan ajaran Ahlussunnah waljamaah serta tidak bertentangan dengan UUD dan Pancasila," katanya.

Selain itu, , menurutnya organisasi Nahdlatul Wathan dalam bidang pendidikan melalui pondok pesantren, diniyah, madrasah/sekolah dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, serta bidang sosial dan dakwah Islamiyah sudah membawa dampak perubahan corak positif untuk Indonesia.

"Serta mewujudkan tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu mercerdaskan kehidupan bangsa," katanya.

Ketua Umum PBNW Syaikhuna Tuan Guru Bajang KH M Zainuddin Atasni, menyampaikan ucapakan terima kasih. Karena Menko PMK yang bersedia menghadiri acara pembacaan Al-Quran itu. Khotmil Quran itu diikuti oleh 10 ribu peserta dari seluruh Indonesia. Mereka berpartisipasi secara daring via zoom. Acara luring dalam rangka peringatan Nuzulul Quran dipusatkan di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW Anjani di NTB. Acara ini juga dihadiri secara daring guru hafiz Masjidil Haram dan Madrasah Assaulatiyah Makkah, Syaikh Ahmad Muhammad Yar. (FN)

Editor: Famati Ndruru

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini