BACA JUGA: Anies Baswedan Masih Menyandang Gelar Gubernur Terbodoh?
Foto : Kadivmin Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta, Sorta Delima Lumban Tobing
Sorta dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya sama – sama berdarah Batak. Baginya budaya Batak sangat mewarnai cara berpikir dan mindset kedua orang tuanya. Bahwa anak lelaki itu lebih utama daripada anak perempuan. “Ya saya lahir dari kedua orang tua asal daerah Batak, maka cara berpikir mindsetnya orang tua saya. Bahwa anak laki – laki lebih utama daripada anak perempuan. Maka karena saya itu 5 bersaudara perempuan dan punya 2 saudara laki – laki. Maka anak laki – laki yang abang saya jadi 3 perempuan dan 2 orang laki-laki,” ungkapnya.
-
“Nah abang saya itu sangat diutamakan oleh kedua orang tua saya. Terutama soal pendidikan. Pepatah orang Batak bilang Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au ya. Jadi ketika papa saya bisnisnya, usahanya mulai merosot padahal abang saya itu kelas 3 SMP, saya dengan abang jaraknya setahun. Kami tuh tadinya sekolah sama - sama di sekolah terbaik di Bilangan, Jakarta Timur di SD swasta ya. Karena secara ekonomi mampu, orang tua saya membiayai. Tapi ketika abang saya ini sudah masuk kelas 2 SMP menjelang 3 SMP, saya disitu kelas 1 SMP,” ungkap Sorta.
-
Lalu Sorta diminta oleh sang ayah mengalah ke saudara laki – lakinya. “Saya diminta ayah saya, sudahlah kamu ngalah ya sama abangmu. Kamu sekolah yang murah saja, di negeri gitu. Ya saya pun mengalah pindah ke sekolah negeri. Sekolah pagi di SMP Negeri dengan biaya relatif murah. Terus saya berpikir. Sudahlah saya sorenya ambil les Bahasa Inggris saja. Ya kan tidak terlalu mahal, pikir saya menambah pengetahuan. Saya pikir begitu. Eh ketika saya sudah enak – enak lagi kursus Bahasa Inggris, ayah saya bilang lagi. Abangmu dulu lah yang kursus bahasa Inggris disitu. Kamu tidak usah dulu anak perempuan,” tuturnya.
-
Sorta pun tak pelak harus merelakan untuk mengalah lagi. “Saya ngalah lagi. Ya lah. Akhirnya saya berhenti dari kursus Bahasa Inggris. Saya kasih lagi, abang saya yang les itu. Terus begitu sampai kuliah juga saya alami harus mengalah demi abang saya. Kuliah untuk abang saya saat itu Perguruan Tinggi ya ada namanya Sekolah Tinggi Komputer. Pada zaman itu tuh sudah the best banget di Jakarta. Betapapun dalam kondisi papa saya sedang tidak oke ekonominya, dibela – belain. Yang penting anak laki – lakinya kuliah di tempat yang bagus. Saya ngalah lagi,” pungkas Kadivmin Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta. (Martin Buulolo/Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Petarung Bebas Mantili Gea, Wujud Yasonna Laoly Support Penuh Putra Putri Ono Niha