BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Presiden Jokowi dan Gatot Nurmantyo
Sebenarnya pada Pilpres 2014, isu PKI sudah merebak. Sasaran tembaknya adalah Jokowi. Yang mana saat itu menjadi salah satu kontestan Capres RI (Calon Presiden Republik Indonesia). Akan tetapi isu ini tak manjur menggerus popularitas dan elektabilitas Jokowi. Buktinya Jokowi menang dan menjadi Presiden RI ke - 6, periode 2014-2019. Namun justru kini Gatot menjadi sorotan. Karena mengangkat soal film G30S/PKI. Mengaitkannya dengan pergantian jabatannya sebagai Panglima TNI. Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai pada 24 September 2020. Gatot sedang mengambil momentum di tengah arus Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang mulai meredup. Sehingga menggoreng isu PKI. Isu PKI di Indonesia sudah tuntas. Sepakat menjadi organisasi terlarang. Maka, dia menyayangkan bila Gatot menjadikan isu PKI bahan dagangan untuk Pilpres (Pemilihan Presiden) 2024. Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid pun turut angkat bicara pada 25 September 2020. Yaitu terkait pernyataan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot mengenai isu kebangkitan PKI. Mengungkit PKI di masa kini sejatinya sudah tak relevan lagi. Seandainya Gatot berniat maju menjadi Presiden di Pilpres 2024 mendatang, sebaiknya maju saja. Tanpa harus membawa isu kebangkitan PKI. Sebagian orang bilang Gatot goreng - goreng isu PKI untuk kepentingan dirinya. Kalau mau nyapres, silakan saja, tanpa harus menuduh pihak lain pro PKI. Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Maritim Investasi pun turut menyindir pada 24 September 2020. Hari punya tanggung jawab mungkin pangkat bintang empat, mantan menteri, mantan ketua ini, sudah atau belum bertanggung jawab kepada masyarakat di Indonesia. Ingin katakan, kalau bikin ribut - ribut dampaknya ada orang yang menjadi korban akibat ribut – ribut.
BACA JUGA: PNS Melarat, Rezim Kejam Idealisman Dachi?
-
Lalu dikemukakan oleh politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu pada 24 September 2020. Veteran sekelas Jenderal (Purn) Gatot seharusnya bisa menahan diri. Tak menjadikan isu Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai gorengan pernyataan - pernyataannya ke publik. Apalagi isu bukan hal baru. Terlebih ketika menjadi Panglima TNI, Gatot seharusnya bisa membuktikan kalau PKI benar - benar ada. Selama Gatot menjadi panglima, isu ada. Seharusnya pada saat itu Gatot sebagai Panglima TNI bisa mencari bukti jika memang isu benar adanya. Tidak elok dan kurang baik bagi Gatot setelah pensiun ikut mengoreng isu PKI. Sebab kesannya melampiaskan kekecewaan. Seolah karena kecewa baru bicara. Bagi PDI Perjuangan, juga bagi TNI tentu menjaga keutuhan republik dalam bingkai NKRI adalah menjadi kewajiban bersama. Lantas mengajak Gatot mengedepankan semangat untuk menjaga keutuhan bangsa. Terlebih di era sekarang generasi muda tidak tertarik dengan isu PKI. Isu dianggap sebagai representasi pemikiran kolot dan miskin ide oleh anak zaman now. Isu PKI selalu muncul, datang dan pergi. Itu fakta yang menunjukkan bahwa isu lebih besar nuansa politik praktis, bukan politik kebangsaan. Politik elektoral hanya bagian dari politik kebangsaan Indonesia. Berharap jangan ada lagi pihak - pihak yang menggunakan isu kolot dan memecah belah bangsa. Terutama sebagai branding menuju kontestasi politik elektoral 2024 nanti. Jangan berlakon sebagai playing victim. Kemudian tuding sana - sini. Sikap demikian sejatinya bukan sikap kesatria, itu mentalitas melo (melankolis). Terlihat Gatot tidak konsisten dari ucapannya 2016 ke 2020. Namun, banyak pihak menyatakan Pilpres 2024. Gatot Nyapres 2024? (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Najwa Shihab Terkesan Provokasi, Antek Orde Baru?