Jakarta, NAWACITAPOST – Dibesarkan dari banyak tempat. Dilahirkan di CurupBengkulu. Namun memang tidak lama mendiaminya. Hanya mengikuti orang tua yang berdinas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pernah pula bertempat tinggal di Bangka. Kemudian sempat kembali ke Bengkulu. Namun, kesedihan pernah menyelimuti di kala masih kecil. Sang ibunda meninggal dunia saat usianya 2,5 tahun. Tidak pernah mengenal dan bertemu wajah ibu secara langsung. Lantas sang ayahnya menikah lagi pada saat usianya 5 tahun sebagai ibu sambungnya. Saat memasuki usia pendidikan Sekolah Dasar (SD) pindah ke Lampung. SD sempat mendapatkan peringkat kedua sesekolahan. Terus mendapatkan reward layaknya beasiswa ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tanpa tes.
Foto : Ketua Umum PPNIHarif Fadhillah bersama Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan
SMP ke SMA (Sekolah Menengah Atas) mengalami adanya perubahan sistem ujiannya. Kelulusan menggunakan Nilai Ebtanas Murni (NEM). Kembali lagi berada di peringkat kedua sesekolahan. Kemudian masuk SMA pula. Semasa SMP, dirinya hobi mengikuti ektrakurikuler (ekskul) drumband. Didaerahnya tepatnya sekecamatan kala dulu, satu – satunya sekolah yang miliki ekskul drumband. Setiap ada event seperti 17an, Kesaktian Pancasila, ulang tahun, pesta rakyat dan sebagainya selalu meminta drumband mengisi. Acara ceremoni yang berisikan upacara juga sama. Selalu tampil. Bangga sekali luar biasa dirasakan. Memegang tamtam. Sangat bermakna. Tidak hanya teknis untuk dikuasai. Justru bisa mendapatkan banyak teman. Sehingga sering juga diundang di ibukota kabupaten saat moment tertentu. Sungguh berkesan. Banyak dikenal disana dengan bakat drumband yang dipopulerkan. Demikian dirasakan Harif Fadhillah selaku Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (Ayu Yulia Yang)