Jakarta, NAWACITAPOST – Perubahan sistem birokrasi dari otoriter menjadi demokrasi, membuat daya tarik tersendiri. Terutama bagi Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D atau disapa Yasonna, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham). Mendorongnya untuk terjun mendalami politik. Bisa menyalurkan kontribusi real positif untuk bangsa dan negara. Yasonna tidak merasa tertarik jikalau saja masih seperti dahulu. Saat dipimpin oleh Soeharto. Lantaran memang begitu terasa keotoriterannya. Pasalnya semua ditentukan oleh rezim tertentu. Termasuk juga hasil pemilihan umum (pemilu)nya. Kemudian mulai memasuki reformasi usai berakhirnya kepemimpinan Soeharto. Tepatnya usai adanya demonstrasi menuntut lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.
Memang lepasnya kepemimpinan Soeharto, banyak yang menginginkan adanya perubahan besar. Sehingga semangat demokratisasi pun berkembang. Demokratisasi memang merupakan cara mewujudkan politik yang baik di dalam sistem. Seperti yang memang menjadi pengalaman Yasonna di Amerika. Oleh karenanya Yasonna berkeinginan kuat mengabdi didalamnya. Yakni lebih tepatnya kepada bangsa dan negara. Latar belakangnya juga dirasa di bidang pendidikan cukup untuk melengkapi kebutuhan di dunia perpolitikan. Dirinya pun pernah menjadi seorang aktivis. Sempat mendapat pertanyaan dari sang dosen. Alasan memilih untuk masuk dunia perpolitikan. Justru bukan fokus dalam akademisi. (Ayu Yulia Yang)