Jumat, 18 September 2026

Viral Istri Pejabat Kalsel Dikipasi saat Makan, Camat Banua Lawas Buka Suara

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Jumat, 18 September 2026 | 20:36 WIB
Menyoroti viralnya dugaan para istri pejabat di Kalimantan Selatan dikipasi layaknya Ratu Mesir hingga disebut sebagai tradisi. (Instagram.com/@nowdots)
Menyoroti viralnya dugaan para istri pejabat di Kalimantan Selatan dikipasi layaknya Ratu Mesir hingga disebut sebagai tradisi. (Instagram.com/@nowdots)

NAWACITAPOST.COM — Sebuah rekaman video yang menampilkan deretan wanita diduga istri pejabat di Kalimantan Selatan (Kalsel) tengah dikipasi oleh sejumlah perempuan muda saat menyantap hidangan, mendadak tular di media sosial.
 
Aksi yang dinilai sebagian warga berlebihan layaknya pelayanan bagi Ratu Mesir tersebut memicu sorotan tajam publik, hingga akhirnya pihak pemerintah setempat memberikan klarifikasi resmi.

Peristiwa itu diketahui berlangsung saat perayaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, Kalsel, pada Senin (14/9/2026).
 
 
Menanggapi kehebohan yang timbul, Camat Banua Lawas, Arianto, menegaskan bahwa momen tersebut bukanlah wujud perilaku feodal, melainkan pelaksanaan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Arianto menjelaskan, tradisi yang dinamakan "Makan Batalam Bakipas Pangeran" ini bahkan telah diakui oleh Kementerian Kebudayaan RI.
 
Praktik Batalam sendiri merupakan prosesi perjamuan religius berupa makan bersama dalam satu nampan besar.

"Kegiatan seperti ini sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang," kata Arianto dikutip dalam keterangannya, pada Jumat (18/9/2026).
 

Menurut Arianto, istilah Bakipas Pangeran berakar dari tradisi mengipasi tokoh bangsawan atau kerajaan, yang dalam konteks modern ditransformasikan sebagai bentuk penghormatan serta pelayanan terhadap tamu penting.
 
Ia mengimbau agar masyarakat umum tidak serta-merta menilai negatif rituals budaya tersebut tanpa memahami akar sejarahnya.

Ia menambahkan, pergeseran nilai telah terjadi seiring membaurnya tradisi Batalam dengan ajaran keagamaan dan tatanan sosial masyarakat setempat.

"Ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah, mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan," beber Arianto.
 

Prosesi penghormatan melalui jamuan ini kini diniatkan untuk menyambut para tokoh yang dihormati di wilayah tersebut tanpa memandang sekat sosial yang kaku.

"Tetapi sebagai para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan," tandasnya.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini