Kamis, 11 Juni 2026

Lampung "Amsyong" Ratusan Miliar, Kereta Batu Bara KAI Dikritik Tajam!

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB

NAWACITAPOST.COM — Di balik gemuruh roda besi yang membawa jutaan ton batu bara melintasi Bumi Ruwa Jurai, tersimpan jeritan ekonomi masyarakat yang membisu. PT Kereta Api Indonesia (KAI) dituding mengeruk keuntungan fantastis triliunan rupiah, sementara warga Lampung hanya kebagian "ampas" berupa kemacetan horor dan kerugian ekonomi yang ditaksir menembus angka ratusan miliar rupiah per tahun.

Gerakan Pemuda Berkarya (GPB) membongkar ironi ini ke permukaan. Mereka menilai, kontribusi KAI terhadap pembangunan Lampung jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan beban sosial-ekonomi yang harus dipikul masyarakat setiap hari.

"Lampung selama ini hanya dijadikan keset dan jalur lintasan gerbong emas hitam menuju Pelabuhan Tarahan, tanpa ada kontribusi pembangunan yang berarti," cetus Dendi Albar Ketua Umum GPB, pada Senin (8/6/2026).

Baca Juga: Bekasi Bangkit! Plh Walkot Harris Bobihoe Dobrak Masalah Sampah, Larang Wisuda Mewah, hingga Ancam Babat Habis Oknum SPMB!

Gurita Bisnis Rp11,4 Triliun vs "Horor" 228 Perlintasan

Bukan rahasia lagi, angkutan batu bara adalah tambang uang utama bagi bisnis logistik KAI. Pada tahun 2024 saja, pendapatan KAI dari sektor ini diperkirakan meroket hingga Rp11,4 triliun. Namun, di balik angka korporasi yang berkilau itu, ada fakta pahit di lapangan:

  • 228 Perlintasan Kereta Api mengepung wilayah Lampung (211 perlintasan sebidang, 17 tidak sebidang).

  • 50 hingga 55 Kali Perjalanan kereta batu bara memotong jalur nadi kota setiap harinya pada koridor Bandar Lampung–Tarahan.

Dampaknya? Efek domino yang mematikan. Kemacetan mengular tanpa jeda, bahan bakar minyak (BBM) terbuang sia-sia di jalan, aktivitas ekonomi lumpuh sesaat, dan nyawa masyarakat terus dipertaruhkan di perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan.

Simulasi Ngeri: Bakar Duit Rp10 Juta Sehari Cuma dari Motor!

GPB melakukan simulasi matematis yang mengejutkan terkait kerugian riil masyarakat di lima titik perlintasan utama Kota Bandar Lampung:

  • Volume Kendaraan: 100 sepeda motor tertahan selama 10 menit per penutupan
  • BBM Terbuang (Pertalite): Kurang lebih 1.000 liter per hari
  • Kerugian Motor/Hari: Rp10.000.000
  • Kerugian Motor / Tahun: Sekitar Rp3,65 Miliar

Baca Juga: Fajar Baru Keadilan di Meranti: Duet Maut Kantor Hukum Ikhwan, S.H. dan LBH CCI Siap Babat Habis Ketidakadilan!

Ingat, itu baru hitungan kasar dari sepeda motor!

Jika variabel kerugian dari kendaraan roda empat, truk angkutan barang, hilangnya waktu produktif warga, hingga penurunan omzet bisnis akibat keterlambatan diakumulasikan, angkanya melonjak drastis. Masyarakat Lampung diperkirakan merugi puluhan hingga ratusan miliar rupiah setiap tahun akibat operasional kereta logistik ini.

Genderang Perang GPB: Tuntut Underpass atau Lawan!

Emgah dengan kondisi yang menjerat daerahnya, GPB melayangkan Empat Tuntutan Harga Mati kepada PT KAI:

  1. Revolusi Infrastruktur: Wajib membangun underpass atau flyover di setiap titik perlintasan padat lalu lintas.

  2. Keadilan Daerah: Tingkatkan kontribusi pembangunan daerah secara nyata melalui infrastruktur publik dan jaminan keselamatan perlintasan.

  3. Pemberdayaan Lokal: Berikan kuota pendidikan vokasi perkeretaapian untuk anak muda Lampung serta genjot pengembangan UMKM.

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini