NAWACITApost.com - Environment Institute (Enviro) menggelar webinar bertajuk "Pendanaan Berkelanjutan Untuk Transisi Energi" di Kampus UI Salemba, Jumat (6/10/2023). Webinar yang diikuti lebih dari 300 peserta ini merupakan kerja sama dengan Sekolah Ilmu Lingkungan UI, Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK Indonesia Network) dan Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan UI (ILUNI SIL UI).
Seperti diketahui, emisi Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2021 setelah menurun drastis pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19 dan terjadinya La Nina pada tahun tersebut. Pada tahun 2021, emisi total Indonesia mencapai 1,14 Gigaton CO2e dengan emisi sektor AFOLU masih bertambah 21 Megaton CO2e menjadi 891 Megaton CO2e.
Kondisi tersebut diperparah dengan adanya fenomena El Nino pada tahun 2023 ini. Sehingga, dikhawatirkan emisi sektor AFOLU akan mengalami peningkatan jika tidak diimbangi dengan penanaman dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang memadai.
CEO Enviro Mahawan Karuniasa mengatakan, emisi dari sektor energi juga terus meningkat menjadi 596 Megaton CO2e pada tahun 2021. "Perlu perhatian pada sumber emisi sektor energi yang akan terus bertambah dan mencapai 58% pada kondisi Business as Usual di tahun 2030, karena hasil laporan Global Stock Take UNFCCC tahun 2023, menguak bahwa emisi global yang didominasi dari bahan bakar fosil tidak sejalan dengan target 1,5° Celsius Paris Agreement," kata dia, Jumat (6/10/2023).
Menurut Mahawan, pemanasan global bisa menembus 1,5 derajat Celsius secara permanen. Oleh karena itu, percepatan transisi energi dengan membuka lebar-lebar keran investasi energi bersih sangat dibutuhkan.
Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia itu juga menyampaikan, untuk rata-rata Januari-September 2023 tercatat 1,4° Celsius di atas level dasar, yaitu temperatur di masa Revolusi Industri. "Tetapi perkembangan ini cukup mengagetkan dan perlu disikapi dengan sangat serius," kata dia.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI Ratna Djuwita, yang menyampaikan strategi penarikan investor ke energi baru terbarukan, dan mendorong kapasitas pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (PLT EBT).
Narasumber lainnya Joko Tri Haryanto, Direktur Utama BPDLH (Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup), dan juga Tri Arko dari Universitas Indonesia yang menyatakan sepakat terkait pentingnya pendanaan dalam transisi menuju energi bersih di Indonesia. Mereka juga mengajak semua pihak untuk mendukung pengembangan investasi energi bersih di Indonesia.