NAWACITAPOST.COM - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sekaligus bakal calon Presiden di pilpres 2024 ini kaget saat mendengar pengakuan polos seorang siswa mengenai adanya pungutan berkedok infak di sebuah SMK Negeri di Rembang.
Hal tersebut disampaikan siswa sebuah SMK Negeri di Rembang, saat Ganjar memberikan motivasi pada acara seminar di Pendopo Kabupaten Rembang, Senin 10 Juli 2023.
"Nah ini masih ketahuan. Saya senang sekali, karena ada siswa yang mau mengaku," kata Ganjar saat itu.
"Bayar nggak sekolahnya, dua sekolah mengatakan tidak, hanya beli seragam. Its ok, beli seragam. Yang satu, nggak bayar tapi membayar gedung,"
"Masak membayar sih? Infak pak," respon Ganjar mendapati pengakuan siswa tersebut.
Pengakuan ini membuat bakal calon presiden (Bacapres) PDIP itu berkomitmen memberantas semua jenis pungutan liar (pungli) menjadi geram.
Bahkan, tak perlu menunggu lama, Ganjar Pranowo langsung menelepon kepala sekolah yang diduga melakukan pungutan tersebut.
Mengingat, SMK Negeri berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi. Alhasil, kepala sekolah tersebut kini sudah dibebastugaskan.
Sikap tegas Ganjar Pranowo terhadap segala bentuk pungli di dunia pendidikan ternyata tidak sekali ini saja disampaikan.
Sebelumnya, Ganjar Pranowo dalam banyak kesempatan telah mewanti-wanti semua pihak agar tak ada lagi pungli di sekolah.
Terima Laporan Pungutan, Ganjar Langsung Sidak Sekolah
Pada saat proses verifikasi dan validasi data calon siswa baru, pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online 2020, Ganjar mendapat banyak laporan adanya dugaan pungutan liar, yang diduga dilakukan sejumlah sekolah di Semarang.
Kata Ganjar Pranowo, nanti setelah anak-anak calon perserta didik baru di terima di sekolah yang bersangkutan, orangtua siswa diminta membayar 'sumbangan' atau hal lainnya.
Laporan tersebut membuat merah telinga Ganjar. Ia pun berkeliling ke sejumlah sekolah untuk mengecek langsung proses verifikasi dan validasi calon peserta didik baru.
Sementara itu, pada kesempatan itu, GanjarPranowo turut mengultimatum sejumlah sekolah, agar jangan sampai menarik pungutan apapun. (****)