NAWACITAPOST.COM - Sebuah video yang memperlihatkan keluhan seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Nias, Sumatra Utara, menjadi viral dan menarik perhatian publik. Video tersebut diambil di SD Negeri Uluna’ai Hiligo'o Laowo Hilimbaruzo, Kecamatan Idano Gawo.
Dalam video itu, siswa tersebut mengungkapkan kekecewaannya karena tidak ada guru yang mengajar selama satu bulan penuh. Sang siswa juga memperlihatkan ruang guru yang kosong tanpa kehadiran seorang pun guru.
"Kalau pun ada guru, dikasih lonceng tapi nggak dikasih pelajaran. Setelah itu pergi mereka," ujar siswa itu dengan nada sedih.
Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran mengenai kualitas pendidikan di wilayah terpencil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Nias memiliki 326 sekolah dasar, yang terdiri dari 324 sekolah negeri dan hanya 2 sekolah swasta yang berada di Kecamatan Nias dan Kecamatan Gido.
Dari segi jumlah tenaga pendidik, tercatat ada 3.674 guru, dengan 3.654 di sekolah negeri dan 20 di sekolah swasta. Data ini menunjukkan rasio yang cukup memadai antara jumlah guru dan murid, yakni 1 guru untuk sekitar 10 siswa.
Namun, situasi di lapangan, khususnya di daerah terpencil seperti Kecamatan Idano Gawo, menunjukkan tantangan yang jauh lebih kompleks. Di Kecamatan Idano Gawo sendiri, terdapat 26 sekolah dasar negeri dengan 286 guru yang bertanggung jawab mendidik 3.873 murid.
Namun, seperti yang tergambarkan dalam video tersebut, absensi guru dan minimnya kegiatan belajar mengajar menjadi masalah utama di salah satu sekolah. Hal ini mengindikasikan adanya kendala yang lebih dari sekadar distribusi tenaga pendidik.
Seorang pengguna Facebook, Rogby Oktrisman, memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai situasi di sekolah tersebut. Ia menjelaskan bahwa lokasi sekolah sangat terisolasi, jauh dari pemukiman padat penduduk, dan akses menuju sekolah harus melalui medan yang sulit.
"Jalan menuju sekolah melewati tepian sungai dengan bebatuan besar serta jalur curam dan licin, yang membuat perjalanan menjadi berbahaya, terutama saat hujan," tulisnya.
Ia juga menambahkan bahwa tidak adanya rumah dinas dan fasilitas listrik menjadi tantangan bagi guru-guru yang umumnya berasal dari kota atau kecamatan lain. Akibatnya, banyak guru merasa tidak betah dan sulit untuk menjalankan tugas secara konsisten.
Ia juga menyoroti adanya faktor politik lokal yang memperburuk keadaan, menjadikan wilayah tersebut sering kali menjadi tempat pembuangan bagi pihak-pihak yang berbeda pandangan politik. Komentar lain dari Supratman Sitinjak memberikan sudut pandang berbeda.