NAWACITAPOST.COM - Dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu bintang terangnya dengan berpulangnya Joko Pinurbo, atau akrab disapa Jokpin, pada Sabtu, 27 April 2024. Ia meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia puisi Indonesia modern.
Joko Pinurbo dilahirkan di Sukabumi, 11 Mei 1962. Ia adalah salah satu sosok yang karya-karyanya telah mewarnai khasanah sastra Indonesia, khususnya sastra Yogyakarta.
Jokpin dikenal sebagai sosok yang menggabungkan humor dan ironi dalam puisi-puisinya. Karya-karyanya sering kali mengkritisi dan menyentil kenyataan sosial, dengan gaya yang apik, jenaka, namun menyimpan makna mendalam.
Lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma Yogyakarta ini telah aktif menulis sejak era 1980-an.
Baca Juga: Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un: Pendiri Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo Meninggal Dunia
Puisi-puisi Jokpin telah dirangkum dalam beberapa karya antologi, di antaranya adalah "Tugu" (1986), "Tonggak" (1987), "Sembilu" (1991), "Ambang" (1992), "Mimbar Penyair Abad 21" (1996), dan "Utan Kayu Tafsir dalam Permainan" (1998). Beberapa karyanya yang terkenal antara lain "Haduh, Aku di-Follow" (2013), "Surat dari Yogya: Sepilihan Puisi" (2015), dan "Tak Ada Asu di Antara Kita: Kumpulan Cerpen" (2023).
Berkat kualitas karyanya, Jokpin telah mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi. Di antaranya adalah Penghargaan Puisi Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta, serta Hadiah Sastra Lontar. Penghargaan-penghargaan ini menjadi bukti akan keunggulan dan kontribusi Jokpin dalam bidang sastra Indonesia.
Meninggalnya Joko Pinurbo tidak hanya menyisakan duka dalam dunia sastra Indonesia, tetapi juga meninggalkan warisan karya-karya yang akan terus diingat dan diapresiasi oleh generasi-generasi mendatang. Semoga karya-karya indah Jokpin akan terus menginspirasi dan memberi makna bagi pembaca, serta mengukir sejarah sastra Indonesia dengan warna yang khas dan tak terlupakan.
Selamat jalan, Jokpin. Damailah dalam puisi abadi.