nasional

Sistem Desil Kacaukan Kehidupan Warga: Dari Kuliah Terancam Putus hingga Kartu BPJS Mendadak Mati

Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:22 WIB
Gambar ilustrasi

Apakah orang yang benar-benar membutuhkan bantuan akhirnya mendapatkan bantuan?

Jika seorang mahasiswa miskin kehilangan KIP Kuliah karena perubahan desil, sistem harus mampu mendeteksi dan memperbaikinya sebelum mahasiswa tersebut berhenti kuliah.

Jika seorang pasien miskin kehilangan PBI, sistem harus mampu mengoreksi sebelum pasien kehilangan akses pengobatan.

Jika sebuah keluarga miskin kehilangan bantuan pangan, negara harus mampu menemukan kesalahan tersebut sebelum mereka benar-benar jatuh lebih dalam.

Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk mengejar akurasi angka, tetapi kehilangan akurasi kemanusiaan.

DTSEN seharusnya menjadi alat untuk menemukan warga miskin, bukan tembok yang membuat warga miskin semakin sulit mendapatkan haknya.

Sistem desil juga harus memiliki tiga prinsip sederhana: data harus akurat, mekanisme koreksi harus cepat, dan hak dasar warga tidak boleh terputus hanya karena sengketa administrasi.

Sebab pada akhirnya, kemiskinan bukan angka 1, 2, 3, atau 4.

Kemiskinan adalah seorang anak yang hampir berhenti kuliah.

Kemiskinan adalah orang tua yang bingung membayar uang sekolah anaknya.

Kemiskinan adalah pasien yang takut masuk rumah sakit karena kartu jaminannya tiba-tiba tidak aktif.

Dan kemiskinan adalah keluarga yang setiap bulan harus memilih: membayar listrik, membeli makanan, membayar sekolah, atau membeli obat.

Kalau sistem negara gagal membaca kenyataan itu, maka yang harus diperbaiki bukan rakyatnya. Sistemnyalah yang harus diperbaiki. ***

Halaman:

Tags

Terkini