NAWACITAPOST.COM — Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tak hanya melumpuhkan jarak pandang, tetapi juga mengancam nyawa kelompok paling rentan: anak-anak dan balita.
Berbagai linimasa media sosial berubah menjadi wadah tumpahan kepedihan dan ketakutan para ibu yang menyaksikan buah hati mereka berjuang menembus sesak napas.
Keadaan mencekam di lapangan tecermin dari deretan unggahan viral. Akun TikTok @its.rehanbesett membagikan video anaknya yang tak henti batuk dan kesulitan bernapas akibat kondisi asap di Pontianak, Kalimantan Barat.
Video yang telah ditonton lebih dari 5 juta kali tersebut memicu puluhan ribu komentar dengan derita serupa.
"Anakku habis keluar dari RS dan rawat jalan pneumonia sampai berdarah gini. Pakai air purifier sampai di angka 400-an. Ini di Palangkaraya," tulis akun @ayy*****s merespons kondisi tersebut.
Kepanikan senada dirasakan oleh akun @riy********a saat pembakaran lahan terjadi di dekat kediamannya. "Malam ini ada yang bakar lahan dekat rumah, anakku batuk sampai sesak 2 minggu dan sudah dua kali masuk IGD," tulisnya.
Dampak psikologis dan desakan kebutuhan alat penyaring udara turut dirasakan oleh para penjual secara daring. Akun @sot*******r menceritakan pengalaman emosionalnya saat menerima pesanan dari pulau terdampak. "Aku dapat orderan air purifier dari Kalimantan semua dan curhatnya selalu bilang, ‘Cepat kirim kak, di rumah ada anak bayi.’ Baca itu rasanya nangis banget," tulisnya.
Kondisi kritis di pemukiman warga ini sejalan dengan lonjakan data medis nasional. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus hingga 21 September 2026, di mana 40.363 kasus di antaranya menyerang balita.
Angka ini dihimpun dari tujuh provinsi prioritas penanganan: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
“Ini kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data 7 provinsi,” ujar Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).
Ancaman racun di udara ini tergolong berbahaya karena kandungan partikel halus PM2,5 dan pelbagai polutan beracun.
Baca Juga: Operasi SAR Masalembo Diperpanjang, Penyelam Khusus Basarnas Tembus Bangkai Virgo Transport 8
"Asap dari karhutla ini mengandung partikel halus PM2,5, kemudian berbagai polutan lain yang tentunya mengganggu kesehatan," jelas Then Suyanti.
Paparan racun asap ini tidak hanya memicu ISPA dan memperburuk kondisi penderita asma serta Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), tetapi juga memicu iritasi mata parah hingga meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan hipertensi pada lansia.
Bagi para ibu di area terdampak, setiap tarikan napas anak-anak mereka kini menjadi pertaruhan hidup yang menegangkan.
Artikel Terkait
Klarifikasi Pegawai SPPG Bantul Soal Video Viral Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis
Sorot RUU Hukum Perdata Internasional, Yasonna Laoly Tekankan Pentingnya Kepastian Hukum
Yasonna Laoly Tegaskan Empat Pilar Bangsa Adalah Fondasi Utama Hadapi Perubahan Zaman
Berizin Sah Kemenag, Ibadah Jemaat GKPI Rajeg Tangerang Digeruduk Warga Ber-Sajam
Dedi Mulyadi Melepas Kepergian Danny Setiawan: Sosok Pemimpin Adil dan Mentor Terbaik