Jumat, 5 Juni 2026

Mengenal 7 Ulama Perempuan Indonesia yang Berkontribusi Besar untuk Pendidikan dan Emansipasi Wanita

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Kamis, 24 April 2025 | 17:01 WIB
Siti Walidah adalah istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan juga tokoh sentral dalam pendirian organisasi perempuan ‘Aisyiyah. (X)
Siti Walidah adalah istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan juga tokoh sentral dalam pendirian organisasi perempuan ‘Aisyiyah. (X)

Sejak kecil, Aisyah telah dididik dalam tradisi literasi Bugis yang kuat. Bersama ibunya, ia bekerja menerjemahkan I La Galigo dari bahasa Bugis kuno ke bahasa Bugis umum agar lebih mudah diakses.

Baca Juga: Inilah 5 Patung Termahal di Dunia, Nomor Satu Setara Semua Harta Kekayaan Menteri BUMN Erick Thohir

Perannya tak hanya terbatas pada ranah kebudayaan. Selama 55 tahun memimpin Tanette, Aisyah juga menjalin kerja sama dengan ilmuwan Belanda seperti BF Matthes untuk mendokumentasikan dan menerbitkan naskah-naskah sastra lokal.

Hasilnya, epos I La Galigo tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan kini dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia. Aisyah membuktikan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam pelestarian pengetahuan lokal dan pengembangan literasi masyarakat.

3. Teungku Fakinah (1856–1938, Aceh)

Lahir dari keluarga ulama besar di Aceh, Teungku Fakinah tumbuh dalam lingkungan yang menekankan pendidikan agama. Ia belajar Al-Qur’an, bahasa Arab, tasawuf, dan berbagai cabang ilmu keislaman dari orang tuanya.

Setelah suaminya gugur dalam perlawanan terhadap Belanda, Teungku Fakinah memutuskan untuk aktif dalam perjuangan, membentuk badan amal dan pasukan bersenjata, termasuk satu batalion perempuan yang dipimpin oleh Tjoet Nyak Dhien.

Baca Juga: Jadwal Lengkap JALALIVE ISC 2025 di Banjarnegara, Bakal Dihadiri Evan Dimas dan Nadeo Argawinata

Peran militernya tidak menghalangi kiprahnya dalam pendidikan. Atas permintaan Panglima Polim, ia kembali ke kampung halamannya untuk menghidupkan kembali dayah atau pesantren milik ayahnya dan menjadikannya lembaga pendidikan untuk perempuan.

Santrinya datang dari berbagai penjuru Aceh, terutama para janda korban perang. Dayah ini menjadi simbol ketahanan dan semangat perempuan Aceh dalam menjaga ilmu dan martabat di tengah konflik.

4. Rahmah El Yunusiyyah (1900–1969, Sumatera Barat)

Rahmah El Yunusiyyah adalah tokoh pendidikan perempuan yang sangat berpengaruh dari Minangkabau. Ia mendirikan Diniyyah Puteri Padang Panjang pada tahun 1923, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam pertama bagi perempuan di Indonesia.

Rahmah percaya bahwa perempuan harus mendapatkan pendidikan agama dan umum agar dapat mandiri secara intelektual dan sosial. Gagasannya membawa angin segar bagi peran perempuan dalam masyarakat Muslim saat itu.

Baca Juga: Raminten Meninggal Dunia, Yogyakarta Kehilangan Sosok Ikonik    

Rahmah juga dikenal di tingkat internasional. Ia pernah diundang untuk mengajar di Universitas Al-Azhar Mesir dan menjadi perempuan pertama dari luar Mesir yang mendapatkan kesempatan itu.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini