Kamis, 4 Juni 2026

Mengenal 7 Ulama Perempuan Indonesia yang Berkontribusi Besar untuk Pendidikan dan Emansipasi Wanita

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Kamis, 24 April 2025 | 17:01 WIB
Siti Walidah adalah istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan juga tokoh sentral dalam pendirian organisasi perempuan ‘Aisyiyah. (X)
Siti Walidah adalah istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan juga tokoh sentral dalam pendirian organisasi perempuan ‘Aisyiyah. (X)

NAWACITAPOST.COM - Saat menyebut kata ulama, mayoritas dari kita langsung membayangkan sosok laki-laki berjubah putih dengan kitab di tangan. Imaji ini begitu kuat karena dibentuk oleh konstruksi sosial yang telah mengakar selama berabad-abad.

Dalam narasi sejarah keislaman, perempuan nyaris tak pernah dihadirkan sebagai ulama. Apalagi, ia disebut dalam barisan tokoh-tokoh penting yang memengaruhi arah keilmuan dan pergerakan Islam di Nusantara.

Padahal, peran ulama perempuan sangat nyata dan luas. Mereka hadir tidak hanya di ruang-ruang pengajaran agama, tetapi juga di garis depan perjuangan sosial, pendidikan, bahkan perlawanan bersenjata terhadap penjajah.

Sejak masa sebelum kemerdekaan hingga kini, perempuan telah memikul peran penting dalam merawat ilmu, membentuk masyarakat, dan menjaga nilai-nilai Islam. Hanya saja, peran ini kerap dipinggirkan atau bahkan dihapus dari catatan sejarah resmi.

Citramaja City, tempat hunian modern yang menawarkan kenyamanan, kemudahan, dan keharmonisan hidup. (Instagram)

Di berbagai penjuru Nusantara, lahir dan tumbuh ulama perempuan dengan kontribusi besar yang patut dikenang. Mereka menulis kitab, memimpin pesantren, menerjemahkan naskah kuno, hingga mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.

Berikut ini adalah sejumlah sosok ulama perempuan dari berbagai daerah di Indonesia yang kisahnya mulai digali kembali dan mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah.

1. Fatimah Al-Banjari (1775–1828, Kalimantan Selatan)

Fatimah Al-Banjari merupakan seorang ulama perempuan dari Martapura, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai penulis kitab fikih berjudul Parukunan Besar. Ia adalah cucu dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, tokoh penting dalam penyebaran Islam di kawasan Malaka, Sumatera, dan Thailand.

Meski akses pendidikan perempuan pada masa itu terbatas, Fatimah mendapat kesempatan belajar langsung dari sang kakek dan ayahnya, Abdul Wahab Bugis. Keilmuannya tak kalah dengan ulama laki-laki sezamannya. Ia mengajar baca tulis, Al-Qur’an, fikih, bahasa Arab, dan pelajaran agama bagi kaum perempuan.

Baca Juga: Mikrotrans JakLingko Akan Jangkau Bekasi, Tangerang, hingga Bogor  

Kitab Parukunan Besar yang ditulisnya memuat tema-tema fikih serupa dengan kitab Sabilal Muhtadin karya sang kakek. Namun, kitab tersebut tidak mencantumkan namanya sebagai penulis. Sebaliknya, nama Jamaluddin—pamannya yang juga Mufti Kesultanan Banjar—digunakan sebagai nama penulis.

Beberapa peneliti dan tokoh masyarakat Banjar, termasuk Abu Daudi, menyebut bahwa hal ini dilakukan demi memastikan penerimaan kitab oleh masyarakat dan otoritas kerajaan yang saat itu hanya mengakui otoritas keilmuan dari ulama laki-laki. Meski begitu, Parukunan Jamaluddin menjadi kitab kuning karya ulama perempuan pertama dari Nusantara yang menyebar hingga ke Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan negara lain. Kitab ini bahkan dicetak di Makkah, Singapura, India, dan Indonesia, menjadikannya warisan keilmuan yang sangat luas jangkauannya.

2. Aisyah We Tenriolle (1840-an–1919, Sulawesi Selatan)

Aisyah We Tenriolle adalah Datu atau Ratu dari Kerajaan Tanette, Sulawesi Selatan. Ia dikenal atas jasanya dalam penyelamatan dan penerjemahan naskah I La Galigo, sebuah epos Bugis yang sangat panjang dan kompleks. Ia merupakan putri dari La Tunampareq dan Colliq Poedjie, pasangan raja dan ratu yang peduli terhadap pengarsipan dan sastra.

Halaman:

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini