Artinya, masih Petrus, dengan pertambahan yang setiap tahun ribuan tersebut, dipastikan sudah over supply.
Baca Juga: Petrus Loyani, Menilai Debat Calon Presiden dan Implikasinya bagi Kemajuan Indonesia
"Dengan kata lain, kalau dalam 5 tahun terakhir ini saja, maka kita bisa membayangkan jumlah advokat itu sudah berapa ribu dan jumlah konsultan pajak berapa ribu, begitu meluber," jlentrehnya.
"Dengan melubernya profesi advokat, maka tidak heran de facto para advokat ikhlas menjadi seperti fenomena diatas," tambah Petrus.
Bahkan, mereka mau menangani semua kasus apa saja dengan bayaran berapa saja.
Baca Juga: Petrus Loyani: TPN dan Relawan adalah 'Penjual' bukan 'Pengganjal' Ganjar-Mahfud
Dari tahun ke tahun, satu generasi advokat belum sempat bertumbuh dengan baik, mapan dengan baik dalam profesinya, sudah hadir lagi ribuan advokat baru. Begitu juga untuk Konsultan pajak.
"Jadi saya mau mengatakan, dua disiplin ini luber, cenderung over supply terutama dibidang akutansi," sebutnya.
Bahkan, khusus untuk bidang akutansi, Petrus menyebut, saat ini orang pribadi maupun perusahaan sudah banyak yang menyusun laporan keuangannya menggunakan teknologi aplikasi.
Baca Juga: Hashim Ungkap Korupsi 51 Triliun di Kemenhan, Petrus Loyani Pertanyakan Tindakan Prabowo
"Artinya, semakin lama profesi tersebut akan semakin kena disrupsi, terutama untuk disrupsi teknologi, 4.0 misalnya, mereka akan cepat tergilas".
"Ini yang menjadi keluhan banyak advokat dan konsultan pajak," tambah Petrus.
Mengutip dari pernyataan mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej (Eddy Hiariej) dalam sebuah seminar, sekarang sangat mudah menjadi seorang advokat, bahkan orang jalanan bisa menjadi advokat. Tapi saat ini banyak sekali advokat yang mutunya rendah karena tidak mampu mengelaborasi perkaranya kliennya.
Baca Juga: Petrus Loyani, Relawan Ganjar Mahfud: Perlu Reformasi UU Pajak dan Perubahan Mentalitas Wajib Pajak
Meski wakil menteri tersebut sedang terkena kasus, namun itu menjadi autokritik tersendiri.