Jakarta NAWACITAPOST - Ketua Relawan Ganjar-Mahfud, Petrus Loyani, memberikan penilaian terhadap performa tiga kandidat cawapres, yakni Gibran Rakabuming Raka, Muhaimin Iskandar, dan Mahfud MD, dalam debat cawapres 2024.
Sesuai keterangan tertulisnya, Sabtu (23/12) dalam catatan awal Petrus, ia menilai Perfirmance Gibran terlihat baik, lebih serius dan terkesan sudah melakukan persiapan yang baik (wellprepair).
"Diluar prediksi tampil nyleneh," katanya.
Tapi secara substantif, ungkap Petrus, jawaban dan opini program yang dipresentasikan terkesan klise, kecuali terkait carbon capture yang memang belum banyak tersosialisasi sehingga ketika topik ini dipertanyakan kepada Mahfud bagaimana meregulasinya, terlihat Mahfud tidak mampu menjawab secara spesifik dan teknis, kecuali menjawab dengan jawaban legal dogmatis tentang prosedur membuat suatu UU menurut ilmu hukum dengan pendekatan naskah akademik.
Padahal jika Mahfud sedikit mengerti tentang carbon capture mestinya dapat dijawab dengan to the point dengan satu kata yaitu regulasi carbon intinya harus fokus pada meregulasi/mengatur kadar emisi untuk pengendalian udara bersih.
Diluar topik itu, masih kata Petrus, narasi Gibran klise, tidak ada yang baru dan istimewa, bahkan justru ada satu topik yang disampaikan terlihat dan terdengar sangat fatal.
"Banyak yang tidak masuk akal alias konyol, menunjukkan ketidakpahaman mendasar tentang pajak, khususnya terkait tax ratio yang dikatakan mau dicapai sebesar 23 persen," ungkap Petrus, yang juga pakar hukum ekonomi ini.
"Opini itu jelas tidak mungkin, karena mau menduakalikan lebih dari posisi tax ratio indonesia yang saat ini hanya sekitar 9 persen dari PDB," jelasnya.
Petrus juga menyoroti saat Gibran ditanya tentang porsi APBN yang riilnya hanya 30 persen yang efektif bisa digunakan, maka mana yang mau diprioritaskan untuk membangun SDM atau infrastruktur.
"Jawabannya adalah keduanya penting diprioritaskan, ini bukan jawaban yang nyambung alias menunjukkan Gibran tidak beritikad baik untuk memprioritaskan menggunakan APBN untuk meningkatan kualitas SDM Indonesia untuk meningkatkan IPM, untuk memprioritaskan mencerdaskan bangsa lebih dulu," ketus Petrus.
"Padahal manusia itu subjek pembangunan, sementara infrastruktur itu obyek pembangunan. Maka seharusnya ketika ditanya prioritas, itu berarti ditanya pilihan pengutamaan dan tidak bisa dijawab dua-duanya, jawaban itu tidak cerdas," imbuhnya.
Selebihnya, kata Petrus, topik topik yang lain narasinya copas program Jokowi, tidak ada gagasan dan program yg otentik.
Terkait performance Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, slogan "slepet" sarung, menurut Petrus itu hanya ilusi.
Melakukan slepet sarung secara fisik yaitu memukulkan sarung pada seseorang bisa jadi tidak berefek apa apa alias tidaklah efektif.
Artikel Terkait
Terkait Pajak, Anies Baswedan Nyatakan Pengusaha Takut Dukung Dirinya. Petrus Loyani: Buktikan!
Petrus Loyani, Relawan Ganjar Mahfud: Perlu Reformasi UU Pajak dan Perubahan Mentalitas Wajib Pajak
Hashim Ungkap Korupsi 51 Triliun di Kemenhan, Petrus Loyani Pertanyakan Tindakan Prabowo
Petrus Loyani: TPN dan Relawan adalah 'Penjual' bukan 'Pengganjal' Ganjar-Mahfud
Bahas Strategi Kemenangan, Team RGM Koordinasi bersama TPN Ganjar Mahfud
Petrus Loyani, Menilai Debat Calon Presiden dan Implikasinya bagi Kemajuan Indonesia
Petrus Loyani Countervailing Narasi Tyas Subyakto tentang Jokowi dan Megawati
Ketua RGM Kritisi Perilaku Politik Gibran dan Kaesang sebagai Generasi Muda: Jangan Ditiru!