NAWACITAPOST.COM - Beberapa saat ini, Petrus Loyani Ketua Umum Perkumpulan Pengacara Pajak Indonesia (PERJAKIN) mengaku mengamati sebuah fenomena bahwa, banyak orang-orang yang seperti Lawyer menunggu di halaman sebuah pengadilan negeri, dengan kondisi yang panas atau hujan.
Disitu, menurut Petrus, jadi tidak jelas mana yang advokat, pengacara, pencari keadilan atau malah makelar kasus (biasa bisebut Markus, red).
Dari fenomena tersebut, Petrus tidak melihat lagi ada penghormatan terhadap kehadiran advokat. "Penghormatan secara profesional dan wajar," kata Petrus melalui video tayangan youtube resmi Petrus Loyani and Partner, Minggu (21/1/2024).
Padalah, kata Petrus, para Advokat ini sering menggaungkan bahwa dirinya adalah profesi yang sifatnya "Official nobile" atau Terhormat.
Kemudian, di dalam undang-undangnya juga dikatakan sebagai penegak hukum. "Tapi melalui etalase ruang tunggu saja, kalau saya menyimpulkan, kemartabat dan advokat itu tidak dihargai sebagaimana mestinya," ucap Petrus yang juga Direktur Akademi Hukum dan Bisnis Indonesia (AHBI) ini.
"Yang dikuatirkan, ungkapan-ungkapan terhormat bagi para Advokat ini hanya penipuan diri, karena secara faktual, seperti itu keadaannya," kata Petrus menyayangkan.
Baca Juga: Petrus Loyani Menilai Performance Imin, Gibran & Mahfud dalam Debat Cawapres 2024
Dari data Perjakin tahun 2020, kata Petrus, saat ini ada kurang lebih 500 Fakultas hukum dengan 56 sekolah tinggi ilmu hukum se-Indonesia, dan kurang lebih 400 Fakultas ekonomi serta lebih dari 60 sekolah tinggi ekonomi.
Apabila dirata-rata, satu fakultas atau sekolah tinggi menghasilkan 100 lulusan, artinya ada kurang lebih ada 5.500 lulusan sarjana hukum dari PTN dan PTS. Dan kurang lebih sekitar 4.500 lulusan sarjana ekonomi dari PTN dan PTS, yang katakan setengahnya lulusan ini dari jurusan akutansi.
Kemudian, setengah dari lulusan jurusan akutansi ini menjadi konsultan pajak. "Itu berarti, dalam setahun ada sekitar 1100 lulusan menjadi konsultan pajak," terang Petrus.
Baca Juga: Petrus Loyani Countervailing Narasi Tyas Subyakto tentang Jokowi dan Megawati
Untuk di jurusan hukum, katakanlah dari 5.500 lulusan, 70 persennya menjadi advokat dan pengacara. Karena 30 persen yang lain mungkin menjadi jaksa, hakim atau bekerja di korporasi swasta dan BUMN.
"Maka bisa dibayangkan setiap tahun, ribuan lulusan hukum hadir menjadi Advokat atau konsultan pajak," hitung Petrus.