Selasa, 8 September 2026

RDP Dugaan Keracunan MBG di DPRD Karo Memanas, Orang Tua Korban Histeris

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 8 September 2026 | 15:10 WIB
RDP DPRD Karo dengan orang tua siswa korban dugaan keracunan MBG di Berastagi memanas. (Instagram/humasdprdkaro - kominfo_karo)
RDP DPRD Karo dengan orang tua siswa korban dugaan keracunan MBG di Berastagi memanas. (Instagram/humasdprdkaro - kominfo_karo)

NAWACITAPOST.COM — Ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendadak memanas dan diwarnai suasana haru penuh kemarahan pada Senin (7/9/2026).
 
Para orang tua siswa korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluapkan emosi mendalam guna menuntut pertanggungjawaban penuh dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya.

Tensi rapat memuncak saat salah satu orang tua siswa SMAN 1 Berastagi, Fitriani br Sijabat, menyampaikan kesaksiannya di hadapan jajaran anggota dewan dan pengelola SPPG.
 
 
Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan kondisi tragis putrinya, Agnesia Paruliana br Silitonga, yang kini mengalami kerusakan organ vital pasca-mengonsumsi hidangan MBG.

“Anak saya kena ginjalnya, di mana hati nurani kalian? Terutama Kepala SPPG. Bapak punya anak atau tidak?” ucap Fitriani saat RDP bersama DPRD Karo pada Senin, (7/9/2026).

Fitriani menuturkan bahwa dampak kesehatan yang dialami putrinya tergolong amat serius hingga harus menjalani perawatan medis secara berulang.
 
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, dugaan paparan zat beracun tersebut bahkan telah menyerang sistem saraf, merusak fungsi ginjal, hingga mengancam organ jantung.
 

“Ini anakku lemah di rumah, ini tentang nyawa. Anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit. Dan saya viral di media sosial yang menanyakan racun apa yang terdeteksi di ikan itu. Sampai saat ini, kami tidak tahu,” lanjutnya.

Selain dampak fisik yang mengkhawatirkan, insiden medis ini turut memicu trauma psikologis berat bagi para korban.
 
Fitriani menyebutkan bahwa putrinya yang sebelumnya dikenal sebagai pelajar berprestasi di sekolahnya, kini mengalami perubahan mental yang signifikan akibat rasa takut berlebih.

“Anak saya itu salah satu yang berprestasi di SMAN 1 Berastagi, sekarang Pak, kondisinya melihat keramaian pun dia takut,” ujarnya.
 

Kemarahan keluarga korban semakin memuncak lantaran respons pengelola program dinilai sangat minim dan terkesan lepas tangan.
 
Fitriani menegaskan bahwa permohonan maaf secara lisan tidak akan pernah cukup untuk mengganti ancaman keselamatan jiwa anak-anak mereka, terlebih hasil uji laboratorium telah mengonfirmasi adanya infeksi bakteri pada korban.

“Terutama pihak SPPG, sampai mana pertanggungjawaban Bapak? Apakah kata maaf dan klarifikasi itu cukup? Tidak, itu tidak cukup. Dari tes urin, hasil anak saya positif ada bakteri,” imbuhnya.

Tak hanya menyoroti penanganan trauma dan kepastian hasil uji laboratorium yang lambat, orang tua siswa juga mengeluhkan efektivitas serta kualitas standar pengobatan yang diberikan oleh pihak terkait selama periode perawatan.
 

“Harga obat yang dikonsumsi anak-anak kami Rp18.000, Rp20.000, yang paling mahal Rp50.000. Seyogyanya, kalau memang pemerintah bahkan negara bertanggung jawab pengobatan ini, kenapa obat seperti itu?” tuntutnya.

Ia mempertanyakan keseriusan penanganan medis yang diberikan, mengingat dampak racun telah menjangkau organ penting.

“Apakah antinyeri bisa menyembuhkan untuk selamanya? Tidak pak,” sambungnya.

Di akhir pernyataannya, Fitriani menyayangkan ketiadaan empati dan iktikad baik dari pihak penyelenggara program gizi yang dinilai tidak memiliki rasa kepedulian terhadap perkembangan kondisi kesehatan para siswa.

“Pihak SPPG sekalipun tidak pernah menanyakan kondisi anak-anak kami,” tuturnya.
 

Kasus dugaan keracunan massal ini berawal dari pendistribusian paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, (13/8/2026). Santapan tersebut dibagikan kepada ratusan siswa dari tiga sekolah menengah di wilayah Berastagi, yakni SMAN 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMKN 1 Berastagi.

Hanya beberapa saat setelah mengonsumsi makanan yang disediakan, para siswa mulai merasakan gejala kelainan fisik secara serentak, mulai dari mual, muntah mendadak, pusing hebat, hingga pembengkakan pada area bibir.
 
Berdasarkan data rekapitulasi hingga Jumat, (14/8/2026), tercatat sedikitnya 353 siswa terindikasi kuat mengalami gejala keracunan.

Guna mengatasi keadaan darurat tersebut, ratusan korban terpaksa dilarikan dan dirawat secara intensif di berbagai fasilitas kesehatan di Kabupaten Karo.
 

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau: Harga Masker Melonjak Drastis hingga Sepuluh Kali Lipat

 
Penanganan medis terpusat di beberapa titik utama, antara lain Rumah Sakit Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe, serta Puskesmas Berastagi.
 
Hingga saat ini, proses investigasi penyebab pasti kontaminasi makanan dan evaluasi kelembagaan SPPG masih terus mendulang desakan keras dari masyarakat setempat.

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini