Para peserta tidak hanya menampilkan gerak dan lagu, tetapi juga memperkenalkan huruf-huruf dalam bahasa isyarat, yang menarik minat banyak pengunjung untuk belajar berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tidak hanya penyandang tunarungu, pengunjung yang bukan tuli pun turut bergabung belajar bahasa isyarat sebagai bentuk apresiasi terhadap inklusivitas.
Baca Juga: JEEF 2024: MAKI dan Pemprov Jatim Dorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Komunitas Tatuli juga menampilkan pertunjukan teaterikal dongeng rakyat seperti "Malin Kundang" dan "Timun Emas," yang semakin memeriahkan acara. Selain itu, Komunitas Tunanetra Istana Karya Disable Surabaya turut serta mengajak pengunjung menyanyikan lagu-lagu bertema cinta tanah air seperti "Indonesia Pusaka" dan "10 November."
Suara merdu dan tabuhan drum saudara kembar muhammad Akbar Nakula dan Muhammad Akbar Sadewa dari Istana Karya Disable Surabaya, memukau seluruh yang hadir.
Ketua Yayasan Semesta Rumah Kita, Inge Ariani Safitri, menekankan pentingnya bahasa sebagai jembatan kesejahteraan. “Jika bahasa isyarat dapat dipahami seluruh masyarakat, komunikasi dengan teman tuli akan lebih mudah dan ini bisa menunjang kesejahteraan mereka,” ujarnya.
Ia pun berharap lebih banyak acara serupa yang bisa digelar demi meningkatkan apresiasi terhadap kaum disabilitas. “Anak-anak disabilitas perlu dihargai, bukan dikasihani,” tutup Inge dengan penuh harap. ***