NAWACITAPOST.COM — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Barat hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan data terbaru, seluas 38.310 hektare lahan di seluruh wilayah ini telah hangus terbakar, memicu kabut asap pekat yang merusak tatanan kehidupan masyarakat.
Dampak dari bencana ini sangat masif. Asap tebal tidak hanya melumpuhkan jadwal penerbangan dan memaksa aktivitas sekolah dialihkan menjadi daring, tetapi juga memicu lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta mengganggu kegiatan ekonomi warga secara menyeluruh.
Koordinator Harian Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat, Daniel S., mengungkapkan parahnya situasi yang terjadi di lapangan.
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Gebrak Medan Satria, Bentengi Keselamatan Siswa Lewat Jalan Betonisasi Modern
“Sampai saat ini terpantau ada 7376 titik panas diwilayah Kalimantan Barat, dan untuk pantauan dari satelit wilayah Kabupaten Ketapang dan wilayah Kabupaten Kubu Raya Merupakan wilayah yang memiliki titik panas terbanyak,” ujarnya saat diwawancarai di kantor BPBD, Jalan Adisucipto, Pontianak, Selasa (1/9/2026).
Pemantauan yang dilakukan oleh Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Barat tidak sekadar menghitung titik panas. Tim gabungan bertindak cepat dengan terus menerjunkan personel tambahan dan mendistribusikan logistik ke lokasi-lokasi kritis demi memacu percepatan pemadaman api.
“Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI, POLRI, BNPB, BPDB dan semua elemen bahu membahu serta berupaya keras melakukan upaya demi bisa karhutla ini teratasi, bahkan kita juga melakukan modifikasi cuaca di beberapa wilayah walaupun hasilnya belum maksimal,” sambung Daniel.
Keganasan karhutla kali ini juga telah menelan korban jiwa. Daniel menyampaikan rasa dukanya atas jatuhnya korban dalam musibah tersebut.
”Korban yang meninggal dunia akibat karhutla yang terpantau oleh kami adalah 1 orang yang ada diwilayah Kabupaten Ketapang,” jelas Daniel dengan nada prihatin.
Masyarakat Kalimantan Barat maupun Indonesia pada umumnya kini sangat bergantung pada daya upaya tanpa henti dari Pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh elemen terkait agar ancaman karhutla ini dapat segera dipadamkan sepenuhnya.(Armend)