Senin, 13 Juli 2026

Kuasa Hukum Oknum PNS Bantah Kabar Bohong Soal Penyekapan hingga Paksa Minum Air Kencing

Photo Author
Sitinjak, Nawacita Post
- Rabu, 28 September 2022 | 09:37 WIB
Kuasa hukum oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tergabung dibawah Kantor Hukum Johnson Panjaitan & Partner saat konferensi pers
Kuasa hukum oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tergabung dibawah Kantor Hukum Johnson Panjaitan & Partner saat konferensi pers

Karawang, NAWACITAPOST.COM - Kuasa hukum oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tergabung dibawah Kantor Hukum Johnson Panjaitan & Partner membantah melakukan penyekapan hingga memaksa minum miras maupun minum air urine kepada wartawan di Karawang, Jawa Barat.

Hal diungkap salah seorang kuasa hukum terlapor, Simon Fernando Tambunan mengatakan, pernyataan Gusti Sevta Gumilar yang menjadi pemberitaan itu tidak benar dan terkesan berlebihan.

"Di sini kami tegaskan bahwa peristiwa penyekapan, pemaksaan minum miras dan air seni itu tidak ada," ungkapnya saat konferensi pers, kafe wisma Nusantara, Selasa (27/9).

Menurutnya, Gusti tidak memaparkan secara jelas kronologi awal penyebab terjadinya peristiwa tersebut.

-


Akan tetapi menceritakan potong potong cerita seolah-olah seperti kejadian menyeramkan.

"Jadi kasus ini dipotong-potong per bagian sadistik. Terkait peristiwa utuhnya apa dia menjelaskan awal mulanya sehingga dia mendapat perlakuan yang dia nyatakan itu," ujarnya

Meskipun demikian, kejadian itu bukan karena persoalan tugas jurnalistik. Melainkan soal postingan media sosial Zaenal yang berisi provokasi terhadap klub sepak bola Karawang Persika 1951 maupun pribadi kliennya.

Atas postingan itu banyak masyarakat khususnya suporter yang kesal dan mencari keberadaan Zaenal.

"Karena ini sudah engga bisa terkontrol lagi. Maka klien kami ingin bertemu Zaenal dan Junot (Gusti) sendiri yang menawarkan untuk berangkat menjemput Zaenal."

"Memang beberapa insiden ada di situ, tapi bukan oleh klien kami, bahkan bukan seizin klien kami karena ada banyak orang di situ," jelasnya

Adapun soal pernyataan tersebut, kata Simon, pihaknya sudah melaporkan Gusti ke Polres Karawang terkait kabar bohong yang membuat onar dengan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor: STTLP/B/ 1795/ IX/ 2022/ SPKT/ POLRES KARAWANG/ POLDA JAWA BARAT.

Simon juga berharap agar Kepolisian bekerja secara profesional dan jangan karena tekanan publik.

"Hari ini saya mau titip pesan untuk kepolisian beberapa waktu belakangan ini hukum terlihat tidak berwibawa oleh tekanan publik. Saya engga mau itu terjadi di Karawang."

"Lakukan secara normatif, periksa sebenarnya dengan cara-cara yang ditentukan, dan kami sampaikan terima kasih kepada kepolisian yang mungkin sudah lelah tapi tetap bisa konsisten dalam tracknya," tandasnya.

Dua warga Karawang, Jawa Barat diduga diculik dan dianiaya oknum pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Karawang.

Aksi penganiayaan itu viral di media sosial. Diduga keduanya dianiaya karena mengkritik di media sosial (medsos).

Dua warga itu bernama Gusti Sevta Gumilar (29) dan Zaenal Mustopa wartawan media online.

Salah satu korban Gusti juga membuat laporan ke Polres No STTLP/1749/IX/2022/SPKT. Reskrim Polres Karawang, pada Senin (19/8/2022) malam.

Hanya sekedar diketahui peristiwa tersebut, berdasarkan informasi, kasus penculikan dan penganiayaan itu dialami Gusti Sevta Gumilar dan Zaenal bermula dari acara lounching klub sepakbola Persika 1951 Karawang di Stadion Singaperbangsa, Sabtu (17/9/2022) malam.

Menurut pengakuan Gusti, dia awalnya dipanggil oknum PNS itu masuk ke salah satu ruangan di stadion. Di dalam ruangan itu, oknum pejabat PNS Karawang ditemani beberapa orang dan pintu ditutup.

"Jam 12 malam itu saya sudah di ruangan. Ruangan ditutup engga boleh ada yang masuk selain orang-orang dia, pegang HP pun terbatas," kata Gusti.

Dia melanjutkan, saat itu juga oknun PNS menekan menanyakan keberadaan Zaenal. Sambil dicekoki minuman keras dan dipaksa minum air kencing hingga dipukul beberapa kali.

Akhirnya Zaenal datang dan dilakukan hal serupa dengan melakukan penganiayaan hingga tak sadarkan diri.

"Dari 12 malam sampai pagi, saya sadarkan diri jam 11. Dievakuasi oleh saudara saya, saya dikasih tidur di hotel tidak boleh pulang. Saya pulang setengah enam lebih minggu sore," jelas dia.

Adapun penyebab penganiayaannya, menurut Gusti dia memang menulis status di akun facebook mengkritik acara sepakbola tersebut.

Dia mengaku harus ada yang diluruskan terkait acara lounching sepakbola tersebut. " Saya memang menyoroti Persika namun itu sekadar kritik," kata Gusti.

Nurjaya Bachtiar

Editor: Sitinjak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini