NAWACITAPOST.COM - Anggota Panitia Khusus (Pansus) RPJMD 2025–2029 DPRD Surabaya, Baktiono, mengusulkan program inovatif berupa pengadaan Ambulans Helikopter guna mempercepat penanganan pasien darurat di wilayah barat Surabaya.
Menurutnya, usulan ini mencuat dalam rapat pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) bersama jajaran rumah sakit milik Pemerintah Kota Surabaya, seperti RSUD dr. Moh. Soewandhie, RS Bakti Dharma Husada (BDH), dan RS Eka Candra Rini.
"RS BDH di Surabaya Barat saat ini masih bertipe B. Untuk penanganan penyakit berat, pasien harus dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD dr. Soetomo, RS Haji, atau RSAL. Tapi dalam kondisi darurat, pengiriman pasien sering terkendala kemacetan lalu lintas yang bisa memakan waktu hingga 3 jam," jelas Baktiono, Jumat (27/6/2025).
Baca Juga: Cak YeBe: Sekda Harus Punya Leadership, Bukan Loyalitas Politik
Baktiono, yang juga anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, menekankan perlunya kehadiran helikopter ambulans untuk mempercepat evakuasi medis dari rumah sakit tipe B ke rumah sakit rujukan yang lebih lengkap.
"Dengan ambulans helikopter, proses evakuasi cukup 10 menit. Waktu sangat menentukan keselamatan pasien. Karena itu, pembangunan helipad di setiap rumah sakit milik Pemkot harus segera direalisasikan," tegasnya.
Ia menyebut pengadaan satu unit helikopter ambulans diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 23,5 miliar. Nilai itu dinilai sangat terjangkau untuk kemampuan keuangan Kota Surabaya.
Baca Juga: Launching Buku 'Perjuangan Anak Pesisir', Cak Ghoni Tegaskan Pentingnya Pendidikan untuk Nelayan
“Pemerintah Kota punya kemampuan. Kalau cuma satu helikopter ambulans, itu sangat mungkin dibeli. Nilainya hanya sekitar Rp 23,5 miliar, dan manfaatnya jauh lebih besar bagi nyawa warga,” ujar Baktiono.
Pansus RPJMD juga mendorong agar pengembangan RS BDH menjadi rumah sakit 12 lantai segera direalisasikan, seiring dengan pembangunan helipad dan peningkatan kapasitas layanan.
“Helipad harus dibangun di RS BDH, RS Soewandhie, dan RS Eka Chandra Rini. Ini bagian dari kesiapan kita menghadapi tantangan medis ke depan,” tandasnya.
Program ini, lanjut Baktiono, diharapkan masuk dalam prioritas pembangunan jangka menengah Surabaya 2025–2029 demi pelayanan kesehatan yang responsif dan modern. ***