NAWACITAPOST.COM — Gelombang duka kembali menyelimuti Kabupaten Aceh Selatan setelah bencana banjir yang sempat mereda secara dramatis kembali meninggi dan menggenangi permukiman warga di Gampong Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Air bah yang datang tanpa belas kasihan memaksa aparat gabungan untuk bergerak cepat dalam operasi penyelamatan darurat di tengah kepanikan warga yang harus kembali meninggalkan kediaman mereka.
Personel TNI bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta berbagai unsur terkait lainnya langsung meningkatkan intensitas pemantauan secara ketat serta bahu-membahu membantu proses evakuasi warga menuju titik-titik aman yang telah disiapkan.
Berdasarkan data komprehensif yang dihimpun oleh petugas di lapangan, terjangan gelombang banjir susulan ini tidak hanya melumpuhkan Gampong Cot Bayu, tetapi juga memberikan dampak kerusakan serta pengungsian yang masif di Gampong Lhok Raya, menjadikannya krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian ekstra.
Koordinator Penanggulangan Darurat Bencana, Kapten Inf Ali Sadikin, mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sempat menunjukkan secercah harapan ketika air di Cot Bayu berangsur surut dan kondisi berangsur membaik.
Namun, dinamika alam berkata lain, menghadirkan ujian berat bagi warga setempat.
“Di Desa Cot Bayu sebelumnya air sempat surut dan kondisi mulai membaik. Namun saat ini air kembali naik,” ujar Ali Sadikin dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Kodam Iskandar Muda pada 1 November 2026.
Dampak destruktif dari naiknya kembali debit air ini dirasakan langsung oleh puluhan kepala keluarga di wilayah tersebut. Di Gampong Cot Bayu, genangan air bah merendam sekitar 30 unit rumah yang dihuni oleh 30 kepala keluarga atau mencakup 120 jiwa penduduk.
Dari jumlah tersebut, sebanyak enam keluarga yang terdiri atas 37 jiwa terpaksa mengambil keputusan berat untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke area tempat pembuangan akhir desa serta menumpang di kediaman kerabat terdekat.
Sementara itu, situasi yang tidak kalah memprihatinkan juga terjadi di Gampong Lhok Raya. Banjir susulan ini berdampak langsung pada 31 unit rumah yang dihuni oleh 31 keluarga dengan total 109 jiwa.
Berbeda dengan warga Cot Bayu yang sebagian menyebar ke rumah kerabat, seluruh warga Gampong Lhok Raya dilaporkan harus mengungsi secara massal ke tenda-tengah pengungsian darurat yang didirikan di Kompi 2 Brimob Pelopor 7, Kecamatan Trumon Tengah.
Intensitas dan ketinggian air di kedua titik pengungsian tersebut menunjukkan tingkat bahaya yang nyata. Di Gampong Cot Bayu, ketinggian air yang merendam akses jalan utama telah mencapai kisaran 20 hingga 60 sentimeter, sementara genangan air yang mengepung bagian depan rumah warga tercatat mencapai sekitar 45 sentimeter.
Kondisi yang lebih parah terpantau di Gampong Lhok Raya, di mana genangan pada akses jalan raya mencapai 15 hingga 60 sentimeter, sementara ketinggian air yang merangsek masuk ke dalam kawasan permukiman warga dilaporkan telah mencapai angka mengkhawatirkan sekitar 60 sentimeter.
Menghadapi situasi darurat yang kian memuncak ini, aparat gabungan dari unsur TNI dan BPBD menetapkan strategi penyelamatan dengan memfokuskan perhatian penuh pada keselamatan kelompok warga yang paling rentan.
Kapten Inf Ali menegaskan bahwa petugas di garis depan tidak akan berkompromi dalam mengutamakan evakuasi bagi anak-anak, para lanjut usia (lansia), serta warga lain yang membutuhkan penanganan khusus.
Baca Juga: Duka di Tengah Dentuman Karnaval Sound Horeg di Jember, Anak Korban Beri Pengakuan Menyentuh
“Prioritas kami adalah keselamatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan warga yang rentan,” katanya dengan tegas.
Berdasarkan analisis awal, eskalasi banjir susulan di Kecamatan Trumon Tengah ini diduga kuat dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan yang terus mengguyur wilayah hulu di Kabupaten Aceh Tenggara.
Kondisi meteorologis ekstrem tersebut memicu volume air sungai meluap secara drastis dan menghantam kawasan dataran rendah di hilir.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melaporkan bahwa hujan lebat berkepanjangan yang terjadi pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi pemicu utama melubernya aliran Sungai Lae Soraya dan Kruen Trumon Raya.
Baca Juga: Kepungan Kereta dan 1.816 Personel: Penggerebekan Kampung Bahari Lumpuhkan Sindikat Narkotika
Luapan air sungai berskala besar tersebut merangsek masuk dan membanjir permukiman warga di Cot Bayu serta Lhok Raya hingga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Sebagai langkah respons cepat dan terukur atas eskalasi bencana yang terus berulang ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan secara resmi telah menetapkan status tanggap darurat banjir.
Keputusan strategis tersebut diberlakukan untuk jangka waktu selama 14 hari terhitung sejak tanggal 31 Oktober 2026, guna mengoptimalkan serta mempercepat seluruh rangkaian penanganan darurat, distribusi logistik, dan pemulihan pascabencana bagi seluruh warga yang terdampak.