NAWACITAPOST.COM — Bencana banjir kembali melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Sabtu (31/10/2026) malam memicu meluapnya debit air sungai, mengakibatkan setidaknya 17 gampong atau desa yang tersebar di enam kecamatan terendam air pekat bercampur lumpur.
Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), terjangan arus deras air tidak hanya merendam kawasan permukiman warga, tetapi juga menyeret sejumlah gelondongan kayu besar. Kerusakan infrastruktur vital pun tak terhindarkan akibat terjangan banjir yang datang secara tiba-tiba ini.
Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, saat meninjau langsung lokasi terdampak pada Minggu (1/11/2026), mengungkapkan bahwa terjangan air bah yang terlampau kuat telah merusak bangunan tanggul penahan.
Baca Juga: Visi Nias Pulau Impian Masuk Agenda Rakernas HIMNI, Agustus Gea: Mewujudkannya Butuh Kerja Keras
“Banjir menjebol tanggul yang telah kita pasang sebelumnya. Tanggul yang kita timbun menggunakan tanah itu jebol sepanjang kurang lebih 100 meter,” ungkap Hasan Basri kepada wartawan. Ia menjelaskan bahwa struktur darurat tersebut tak mampu menahan volume serta derasnya arus sungai yang meluap.
Dampak banjir dirasakan secara merata di berbagai titik. Di Kecamatan Meurah Dua, genangan air merendam setidaknya enam gampong, yakni Gampong Geunteng, Blang Cut, Dayah Usen, Meunasah Mancang, Pante Beurene, dan Dayah Kruet.
Selain itu, wilayah kecamatan lainnya seperti Meureudu, Bandar Dua, Bandar Baru, dan Panteraja turut melaporkan dampak serupa dengan kerusakan yang mencakup jalan raya, tanggul, hingga fasilitas pendidikan.
Situasi ini memicu reaksi dan kepedulian mendalam dari masyarakat, baik secara langsung maupun di ruang digital. Sejumlah warga meluapkan keresahan mereka melalui media sosial, menyuarakan beban psikologis yang terus berulang setiap kali musim hujan tiba.
“Setiap banjir datang, jalan utama berubah menjadi sungai. Masyarakat kembali dihantui kecemasan,” tulis keterangan dalam unggahan akun Instagram @mahmudiishak pada Minggu, 1 November 2026.
“Jalan yang biasa dilalui warga berubah jadi sungai dengan aliran deras,” lanjutnya.
Keluar dari lingkaran kecemasan tersebut, suara kekecewaan turut disuarakan warganet lain yang mendesak adanya solusi jangka panjang dari pemerintah daerah.
“Hujan seharian, pasti air sungai meluap lagi. Sampai kapan nih? Pemerintah Pidie Jaya enggak muak apa tiap hujan deras selalu kebanjiran?” tulis akun Threads @___fffia dalam narasi visual yang memperlihatkan genangan air di sekitar permukiman.
Hingga saat ini, pihak BPBA memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden bencana alam tersebut. Kendati demikian, kerugian material serta lumpuhnya aktivitas warga menjadi catatan berat bagi daerah.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama instansi terkait terus mengimbau masyarakat agar tetap siaga dan meningkatkan kewaspadaan tinggi, mengingat potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat masih mengancam wilayah tersebut dalam beberapa hari ke depan.(***)
Artikel Terkait
Gebrakan Transparansi Publik: Pemkot Bekasi Ganjar Penghargaan Perangkat Daerah dan Kecamatan Terbaik
Tembus Setengah Juta Perlintasan, Imigrasi Batam Gagalkan Ribuan Pekerja Migran Nonprosedural
Dapur MBG Bermasalah Menjerit Rugi, CEO Promedia Group Tegaskan BGN Tak Boleh Tunduk
Krisis Kendala Pasokan dan Distribusi Terhambat Jadi Penyebab Utama Stok BBM Bali Ludes
Klaim Dana Rp17 Miliar Bergulir, BTN Tegaskan Pembuktian Hukum dan Transparansi