NAWACITAPOST.COM — Sebuah duka mendalam menyelimuti korps pemadam kebakaran di Sulawesi Selatan.
Niat tulus menaklukkan kobaran api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berubah menjadi tragedi berdarah saat armada Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pangkep mengalami kecelakaan hebat di Jalan Poros Trans Sulawesi.
Insiden maut yang terjadi tepat di sekitar SPBU Labakkang, Kampung Tujung Batu, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Labakkang ini merenggut nyawa dua personel damkar dan melukai lima petugas lainnya.
Peristiwa naas tersebut mendadak gempar dan menjadi sorotan publik setelah rekaman kondisi armada yang terguling beredar luas di media sosial.
Berdasarkan penelusuran, insiden memilukan itu terjadi pada Selasa, 29 September 2026, sekitar pukul 14.40 WITA.
Mobil pemadam yang melaju kencang demi menyelamatkan nyawa serta harta benda warga dari ancaman karhutla tersebut mendadak hilang kendali akibat banting setir secara mendadak.
Unggahan akun Instagram @makassar_iinfo melukiskan detik-detik menegangkan saat armada tersebut oleng hingga terbalik di tengah jalan raya usai berupaya menghindari kendaraan lain yang berada tepat di depannya.
"Kendaraan Damkar tersebut terguling di Jalan Poros Trans Sulawesi, tepatnya di sekitar SPBU Labakkang," tulis unggahan tersebut.
Benturan keras tidak dapat terelakkan. Dari tujuh personel yang berada di dalam armada damkar tersebut, dua orang di antaranya dipastikan gugur dalam tugas, sementara korban lainnya harus segera dievakuasi untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.
"Sementara sejumlah petugas lainnya, dilaporkan selamat dan sedang menjalani perawatan medis di RSUD Batara Siang, Kabupaten Pangkep," lanjut laporan dari unggahan yang sama.
Secara terpisah, Kanit Gakkum Satlantas Polres Pangkep, Ipda Usman, membeberkan kronologi awal sebelum tragedi memilukan tersebut terjadi.
Menurutnya, iring-iringan armada bergerak cepat usai menerima laporan darurat mengenai amukan karhutla di wilayah Pangkep. Armada tersebut melaju dalam kecepatan tinggi dari arah Makassar menuju arah Barru di lajur kanan badan jalan.
Namun, drama mencekam terjadi saat mobil damkar melintas di kawasan Kampung Tujung Batu.
Kehadiran kendaraan lain secara mendadak di jalur yang sama memaksa pengemudi damkar mengambil keputusan ekstrem dalam hitungan detik.
"Mobil pemadam bergerak dari arah Makassar menuju ke depan (Barru) di lajur kanan," kata Usman dalam keterangannya, pada Selasa, 29 September 2026.
"Tapi, saat melintas tiba-tiba ada mobil di depan. Sehingga pengemudi berusaha menghindari ke kiri, lalu banting ke kanan," ungkapnya.
Langkah manuver berbahaya yang dilakukan demi menghindari tabrakan beruntun itu harus dibayar mahal.
Beban muatan yang berat serta sapuan angin membuat kendaraan berukuran besar itu oleng tak terkendali.
"Pengemudi tidak bisa menguasai kendaraannya, kendaraan oleng lalu terbalik sendiri," jelas Usman mendeskripsikan momen kritis saat armada terbalik menghantam aspal.
Usman menegaskan bahwa peristiwa maut yang menimpa para pejuang garis depan pemadam kebakaran ini murni merupakan peristiwa kecelakaan tunggal tanpa melibatkan benturan fisik langsung dengan kendaraan lain di lokasi.
"Ada 7 personel dalam mobil damkar," sebut Usman.
"2 orang meninggal dunia. Ini kecelakaan tunggal," sambungnya.
Seluruh korban luka-luka maupun korban jiwa langsung dilarikan ke ruang gawat darurat RSUD Batara Siang, Kabupaten Pangkep.
Isak tangis dan ketegangan menyelimuti proses evakuasi tatkala para rekan sejawat membawa tubuh para korban yang bersimbah darah.
Hingga berita ini diterbitkan, jajaran Polres Kabupaten Pangkep masih terus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta penyelidikan mendalam untuk mengusut tuntas penyebab pasti dari kecelakaan maut ini.
Pihak kepolisian maupun rumah sakit belum memberikan keterangan resmi tambahan terkait perkembangan kondisi terkini para korban selamat yang masih menjalani perawatan intensif.