Jumat, 10 Juli 2026

Bukan Cuma Tren, Ini Alasan Kenapa Hiking Bikin Fisik dan Mental Kamu 'Naik Kelas'

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Selasa, 19 Mei 2026 | 19:50 WIB
Para pendaki ketika Gunung Bismo (esp Nawacitapost)
Para pendaki ketika Gunung Bismo (esp Nawacitapost)

NAWACITAPOST.COM — Jalur pendakian di berbagai pegunungan kini tak pernah sepi. Mulai dari Gen Z hingga profesional muda, semua berbondong-bondong menukar hiruk-pikuk kota dengan petualangan di alam bebas. Tren hiking dan mendaki gunung memang sedang berada di puncaknya.

Namun, di balik estetika foto lanskap awan dan matahari terbit yang menghiasi media sosial, ada transformasi besar yang terjadi pada tubuh dan pikiran para pendaki. Menembus jalur ekstrem bukan sekadar rekreasi, melainkan sebuah investasi kesehatan yang utuh.

Berikut adalah deretan alasan ilmiah mengapa mendaki gunung bisa membuat kualitas hidup kamu 'naik kelas':

1. Booster Kardio dan Pembakar Kalori Tingkat Tinggi

Mendaki gunung bukanlah jalan santai di car-free day. Medan menanjak dan tidak rata adalah trek latihan fisik yang sempurna.

Baca Juga: Gurita Kasus Korupsi Bupati Ponorogo Merembet ke Pacitan, Rumah Mewah Pengusaha Cantik Digeruduk KPK!

  • Latihan Jantung & Paru: Tanjakan curam memaksa jantung dan paru-paru bekerja optimal, meningkatkan stamina, serta kapasitas pernapasan secara signifikan.
  • Tantangan Otot: Membawa tas carrier yang berat secara alami melatih otot paha, betis, punggung, hingga otot inti (core muscles).
  • Defisit Kalori Maksimal: Medan yang menantang membuat pembakaran kalori melonjak tajam. Dalam satu jam pendakian, tubuh bisa membakar 400 hingga 700 kalori—jauh lebih tinggi dibanding jalan kaki biasa.

Pendaki Gunung Bismo ketika dipuncak (esp Nawacitapost)

2. 'Digital Detox' Terbaik dan Pereda Stres Alami

Lelah dengan notifikasi pekerjaan yang tiada habisnya? Gunung adalah tempat pelarian terbaik. Minimnya sinyal di area pegunungan justru menjadi berkah untuk melakukan digital detox.

Berada di ruang terbuka hijau dengan udara bersih terbukti ampuh menurunkan hormon kortisol (pemicu stres). Jauh dari kebisingan kota, pikiran Anda dipaksa untuk melambat dan menikmati momen saat ini (present moment).

Baca Juga: Menolak Diam! Berkas 'Membeku' 7 Bulan, Korban Penganiayaan Datangi Kejari Sibolga

3. Ramuan Kebahagiaan: Endorfin dan Serotonin

Pernah mendengar istilah *hiker’s high*? Kombinasi antara aktivitas fisik yang intens dan pemandangan alam yang megah memicu otak melepaskan hormon endorfin dan serotonin. Hasilnya? Suasana hati (mood) meningkat drastis dan muncul rasa bahagia yang autentik setelah lelah berjalan seharian.

Mental Baja: Mendaki juga merupakan simulasi kehidupan. Diuji oleh rasa lelah, dingin, dan trek yang panjang, seorang pendaki dilatih untuk mengatur emosi, menjaga fokus, dan mengasah mental pantang menyerah hingga mencapai puncak.

4. Solidaritas Tanpa Batas & 'Green Lifestyle'

Di gunung, ego harus ditinggalkan di basecamp. Mendaki dalam kelompok mengajarkan arti nyata dari kerja sama: berbagi logistik, menjaga ritme jalan bersama, hingga saling menyemangati saat kaki mulai mati rasa. Ikatan emosional yang terbangun di jalur pendakian seringkali jauh lebih kuat.

Bonusnya, menyaksikan langsung keindahan alam dari ketinggian sering kali memicu sense of belonging terhadap bumi. Pendaki yang bijak akan pulang membawa kesadaran baru untuk menjaga kelestarian lingkungan dan hidup lebih ramah alam.

Baca Juga: Gedor Senayan! Ketua PGRI Flores Timur Suarakan Jeritan Guru Honorer Langsung di Hadapan DPR RI

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini