BEKASI — Di tengah gemuruh arus modernisasi dan pusaran efisiensi era digital yang kian masif, organisasi kedaerahan di kawasan megapolitan kini dituntut untuk bertransformasi secara radikal.
Tak lagi sekadar menjadi ruang bertukar kabar atau ajang silaturahmi nostalgia, wadah perantauan kini dipacu untuk berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan budaya sekaligus motor penggerak kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tangguh di tengah sengitnya persaingan global.
Menjawab tantangan zaman yang kian dinamis, Himpunan Keluarga Nias Bekasi (HKNB) secara tegas mengambil langkah strategis untuk terus tumbuh, berbenah, dan beradaptasi.
Di tengah kompleksitas Bekasi sebagai episentrum industri nasional dan penyangga utama Jakarta, keberadaan wadah perantauan ini dinilai memiliki arti vital dalam memetakan masa depan generasi muda perantau asal Tanah Nias.
Tokoh Nias di Bekasi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Ono Niha Sejabodetabek, Marfet Lahagu, menekankan betapa krusialnya konsolidasi internal serta transformasi peran organisasi daerah di perantauan.
Dalam pandangannya, HKNB memegang posisi yang sangat unik dan strategis untuk menjadi jembatan adaptasi lintas sektor, mulai dari penguatan budaya, ketahanan ekonomi, hingga percepatan literasi digital bagi seluruh anggotanya.
"HKNB Tumbuh Dalam Perkembangan Jaman dan Era Digitalisasi. Generasi mudanya wajib berbenah," tegas Marfet Lahagu saat menyampaikan pandangannya mengenai arah gerak organisasi di tengah pergerakan ekonomi kota penyangga yang kian melaju kencang.
Bekasi, dengan perputaran ekonomi yang begitu cepat dan standar efisiensi industri yang tinggi, menuntut kesiapan SDM yang tak hanya terampil tetapi juga adaptif terhadap kemajuan teknologi.
HKNB dinilai memegang peran kunci untuk menggembleng kapasitas generasi muda Nias agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mampu bersaing secara profesional di industri modern.
Di saat yang sama, peran pendampingan terus didorong guna mempercepat percepatan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga Nias melalui optimalisasi e-commerce serta strategi pemasaran digital yang terukur.
Langkah akselerasi ini tidak berhenti pada ranah ekonomi kreatif dan modernisasi manajemen organisasi berbasis data digital semata. HKNB juga memikul misi peradaban yang tak kalah vital, yakni sebagai penjaga identitas dan filter kebudayaan.
Kekayaan warisan tradisi luhur seperti keahlian Lompat Batu (Fahombo) dan tarian kolosal Tari Maena kini secara sistematis didorong untuk masuk ke ruang dokumentasi digital serta promosi skala global. Pemanfaatan ruang siber ini menjadi strategi krusial agar kebudayaan asli tetap lestari, berdaya saing, dan tak tergerus oleh era disrupsi.
Di tengah derasnya arus informasi yang kerap kali memicu benturan nilai, polarisasi, serta tumbuhnya sikap individualistis di perkotaan, HKNB konsisten mengukuhkan diri sebagai filter sosial dan ruang aman bagi warga perantauan.
Melalui internalisasi nilai-nilai luhur kekeluargaan Nias (Fahuwusa), organisasi ini berkomitmen memastikan seluruh anggotanya tetap teguh memegang akar budaya seraya melangkah mantap menaklukkan era digital.(Redaksi)