Sabtu, 3 Oktober 2026

CEO Promedia Grup Tagih Janji Kepala Bakom Soal Kesejahteraan Wartawan

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 3 Oktober 2026 | 21:35 WIB

NAWACITAPOST.COM — Chief Executive Officer (CEO) Promedia Group, Agus Sulistriyono, merespons tegas dan memberikan apresiasi mendalam terhadap pernyataan perdana Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, usai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.
 
Namun, di balik tatanan kalimat heroik tersebut, pemimipin media nasional itu langsung melontarkan refleksi kritis terkait realita kelam yang membelit ribuan insan pers di seluruh pelosok Nusantara.

Agus menyebuk fokus utamanya tertuju pada satu kalimat kunci yang disampaikan pimpinan baru lembaga komunikasi negara tersebut: “Wartawan itu nyawanya negara ini.”
 
 
Menurutnya, ungkapan itu amat filosofis, tetapi menuntut pembuktian konkret berupa regulasi serta kebijakan nyata di lapangan, bukan sekadar pemanis retorika politik.

"Saya tertarik sekaligus mengapresiasi salah satu pernyataan pertama Syahganda Nainggolan setelah dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom). 'Wartawan itu nyawanya negara ini.' Kalimatnya pendek, tetapi maknanya sangat dalam. Terlebih pernyataan tersebut disampaikan oleh orang yang kini berada pada posisi strategis dalam komunikasi pemerintah," ujar Agus Sulistriyono dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).

Meski berada dalam barisan yang sepakat dengan pandangan tersebut, CEO Promedia Group ini langsung menggugat potret buram kondisi perekonomian wartawan dan kerapuhan industri pers nasional yang tengah berada di ambang krisis.

"Saya sepakat. Namun saya ingin mengajak kepala Bakom melihat realita kondisi ekonomi kawan-kawan wartawan di tanah air. Kalau wartawan memang nyawa negara ini, bagaimana keadaan mereka yang selama ini menjaga nyawa itu?" seloroh Agus, menyoroti ketimpangan yang terjadi.

Ia membeberkan gambaran pahit mengenai estimasi 200 hingga 300 ribu wartawan yang tersebar di puluhan ribu perusahaan pers di seluruh Indonesia.
 
 
Keberadaan jurnalis yang melimpah ini berbanding terbalik dengan ketahanan ekonomi industri media yang sedang tidak baik-baik saja akibat goncangan disrupsi dan efisiensi bisnis.

"Jawabannya mungkin tidak terlalu menggembirakan. Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 200-300 ribu wartawan yang bekerja di puluhan ribu media. Angka pastinya memang sulit diketahui. Namun satu hal yang mudah kita lihat: industri media sedang tidak baik-baik saja," paparnya.

Tekanan finansial global dan perubahan peta periklanan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai entitas media besar.
 
Fenomena ini memaksa sebagian insan pers banting stir dengan mencoba bertahan hidup mendirikan media independen berskala kecil di wilayah basis mereka masing-masing.

"Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan ekonomi telah menyebabkan PHK di berbagai perusahaan media, termasuk media-media besar. Sebagian wartawan kemudian berusaha bertahan dengan mendirikan media sendiri," jelas Agus.
 

Kemudahan alur teknologi diakui memang mempercepat kemunculan portal media baru hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Akan tetapi, kemudahan teknis tersebut tidak serta-merta berbanding lurus dengan keberlanjutan roda ekonomi bisnis pers lokal.

"Teknologi memang membuat mendirikan media menjadi mudah. Tetapi mendirikan media mudah, membuatnya sehat secara ekonomi adalah persoalan berbeda. Puluhan ribu media kecil kini tumbuh di berbagai kabupaten dan kota. Banyak wartawannya bekerja dengan sumber daya terbatas. Bahkan tidak sedikit yang penghasilannya masih di bawah standar upah minimum daerah," ungkap Agus prihatin.

Kondisi serba terbatas itu dinilai berbenturan keras dengan ekspektasi publik yang memposisikan pers sebagai pilar keempat demokrasi.
 
Jurnalis dibebani tanggung jawab moral berat untuk memproduksi karya berkualitas, mengawal kebijakan publik, meredam banjir hoaks, serta mematuhi norma hukum dan kode etik profesi.

"Padahal pers selalu kita tempatkan sebagai pilar keempat demokrasi. Wartawan dituntut mengawasi kekuasaan, melawan hoaks, melakukan verifikasi, menyuarakan kepentingan publik, sekaligus bekerja profesional dan memegang teguh kode etik," tambahnya.
 

Atas dasar dinamika tegang di lapangan tersebut, CEO Promedia Group mendesak Bakom tidak sekadar menebar janji manis di balik podium kekuasaan.
 
Ia menyodorkan peta jalan konkret agar komitmen negara terhadap pers dapat segera diwujudkan secara inklusif.

"Karena itu saya berharap pernyataan 'wartawan itu nyawanya negara ini' tidak berhenti sebagai kalimat yang indah. Saya mengajak Kepala Bakom untuk menjadikannya sebuah agenda nyata," imbau Agus.

Ia merincikan sejumlah aksi strategis yang patut diambil Bakom, salah satunya dengan menjangkau seluruh elemen media tanpa tebang pilih, termasuk organisasi pers lokal yang berada di luar garis konstituen resmi.

"Bakom dapat memulai forum dialog rutin dengan wartawan, media lokal dan organisasi pers baik yang tercatat sebagai konstituen di Dewan Pers maupun bukan. Karena faktanya, ada ribuan organisasi pers di luar Dewan Pers yang eksis di setiap kabupaten/kota. Dengarkan langsung persoalan mereka dan petakan kondisi riil industri pers Indonesia hari ini," tandasnya.
 

Selain itu, negara diminta aktif turun tangan dalam peningkatan kapabilitas SDM serta transparansi distribusi akses informasi pembangunan hingga ke pelosok daerah secara adil.

"Bakom juga dapat mendorong program peningkatan kompetensi dan transformasi digital bagi wartawan dan media lokal, serta membuka akses komunikasi pemerintah yang lebih luas dan setara hingga ke media di kabupaten dan kota. Pemerintah membutuhkan pers untuk menyampaikan pembangunan kepada masyarakat. Sisi lain, pemerintah membutuhkan pers untuk mendengar kritik, aspirasi, dan realitas dari lapangan," tegas Agus.

Di akhir panggilannya, Agus menekankan bahwa ekosistem pers yang berdaya secara finansial dan independen merupakan fondasi utama bagi kemajuan ekonomi, stabilitas politik, serta kepercayaan publik terhadap negara.

"Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, persatuan nasional, dan kepercayaan publik. Pers yang sehat memiliki peran penting dalam semua itu. Karena itu saya menyambut baik pernyataan Kepala Bakom Syahganda Nainggolan," tuturnya.

Ia menutup pernyataannya dengan pesan dramatis yang mengingatkan pemerintah akan pertaruhan masa depan pers nasional.

"Kalau wartawan adalah nyawa negara ini, mari kita pastikan mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian sekadar untuk bertahan hidup. Sebab menjaga wartawan bukan hanya menjaga sebuah profesi. Menjaga wartawan berarti menjaga kualitas informasi, menjaga demokrasi, dan pada akhirnya menjaga Indonesia," pungkas Agus Sulistriyono.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini