"Itu jurus-jurus klasik," ucapnya.
Petrus mencontohkan, dulu di dalam eksekutif korporasi, apabila ada tekanan, atau bahkan akan dipecat oleh owner atau top manajemen, seseorang akan pindah ke perusahaan lawan.
"Artinya menjadi kutu loncat atau seperti Fenomena advokat gitu kalau mau dipecat dari satu organisasinya, atau mengalami ketidaknyamanan, dia loncat ke organisasi advokat yang lain. Itu kan perilaku yang sesungguhnya tidak etis dan tidak elok. Iya kan?" tegas Petrus.
Dalam hal ini, Petrus menyatakan sangat menyayangkan kalau PDI Perjuangan yang mengklaim sebagai partai kawakan, tahan banting sudah pengalaman dalam tekanan-tekanan, lalu sekarang menghadapi Pilpres yang dirasa penuh tekanan, PDIP malah mau merangkul lawan dan parahnya kemudian dipermalukan dengan reaksi reaksi itu.
"Saya kira PDIP, jangan melakukan langkah langkah strategik yang kontra produktif dan tidak logis seperti itu," seloroh Petrus.
Bukankah menurut Petrus, orang orang yang ada di TPN (Tim Pemenangan Nasional) atau Relawan adalah orang orang atau tim yang hebat-hebat. Tapi kenapa melakukan langkah-langkah yang blunder semacam itu?
Mestinya kata Petrus, kalau ada tekanan tekanan semacam itu, PDIP dapat bersikap semakin berupaya melakukan aksi aksi konkrit untuk merangkul rakyat bukan malah merangkul lawan.
"Merangkul rakyat dari yang benar benar akar rumput bawah sampai atas," katanya.