Celakanya Jokowi ini masih menjabat sebagai Presiden, saat Jokowi mengangkat anak dan menantunya untuk menjadi Walikota, menjadi Ketua Umum PSI, adik iparnya menjadi Ketua MK dan terakhir anaknya menjadi Cawapres, ada hal yang dilanggar disana, yakni etika politik bersama penyalah gunaan berbagai fasilitas negara yang melekat pada dirinya sebagai seorang Presiden.
Inilah yang membuat kita harus mengkritisinya, kecuali nalar dan nurani kita sudah mati selamanya.
Ada yang kemudian marah ke saya dan bilang bahwa saya sok-sok'an, sok pahlawan dan mengata-ngatai saya ketika saya bilang mari kita gelorakan kembali Reformasi Jilid II untuk melawan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Kata mereka ke saya, "Memangnya kamu di waktu Reformasi '98 dimana? Jangan sok-sok'an mengajak-ngajak reformasi !".
Hei Pentel (Pendukung Jokowi Telat Mikir) ! Dengarkan: Jauh sebelum Reformasi '98 itu saya dkk. sudah terus menerus menulis dan berorasi, baik itu di pertemuan-pertemuan Mahasiswa dan Pemuda di Berlin, Bonn, Koeln, Nuernberg, Frankfurt Jerman maupun di Jakarta (Tahun 1991 sampai 1998), bahwa Rezim Soeharto harus ditumbangkan ! Bahwa multi partai harus kembali dihidupkan !
Bahwa Otonomi Daerah harus diselenggarakan ! Bahwa Dwi Fungsi ABRI (TNI) harus dicabut ! Bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus dipilih langsung oleh rakyat ! Bahwa lembaga Yudikatif haruslah mandiri terbebas dari intervensi Eksekutif maupun Legislatif ! Bahwa MPR haruslah direfungsionalisasi ! dll.nya. apakah kalian mengerti sejarah tentang semua itu, hingga kalian bisa menikmati apa yang dahulu kami dkk. perjuangkan dengan resiko bertarung nyawa?!.
Semua agenda perjuangan itu kemudian kami rangkum dengan tiga kata, lawan Sentralisme, Militerisme dan Oteriterianisme !. Belakangan menjelang detik-detik Reformasi '98, teman-teman seperjuangan lainnya menggantinya dengan istilah Anti KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).
Namun pada prinsip dan realitanya, agenda perjuangan kami itu sama, dan direalisasikan setelah Rezim Soeharto tumbang.