Memperhatikan dan merenungkan perjuangan kami dulu itu sebegitu keras dan beratnya, sampai mengorbankan banyak waktu, tenaga, air mata dan darah, tentunya saya dkk.
Sekarang ini kesalnya bukan main, karena dipikir-pikir kok apa yang dilakukan oleh Jokowi ini sudah mulai menjurus pada hal-hal yang dahulu kami lawan mati-matian.
Di tahun 1998 itu kami melihat kota-kota terbakar, manusia-manusianya juga banyak yang mati terbakar. Teman-teman seperjuangan sebelumnya juga banyak yang diculik oleh orang yang sekarang jadi Capres dan didampingi anaknya Jokowi, juga didukung oleh teman-teman yang dahulu diculiknya namun sudah jadi orang-orang kaya.
Lalu perasaan kalian, jika kalian saat ini jadi saya dan melihat fenomena ini semua bagaimana? Diamkah? Terus menerus memuji Jokowikah? Tentu tidak bukan?
Saya menjadi bagian dari rakyat yang terluka bukan karena saya iri melihat teman sesama Aktivis '98, yang dahulu berjuang bersama saya dan sering saya anterin pakai motor kemana-mana sebelum dia diculik sekarang sudah jadi pejabat, tidak. Bukan itu alasannya.
Bukan pula karena saya iri melihat teman sesama Aktivis '98 yang dahulu sering saya kunjungi waktu dia dkk.lainnya dipenjara di Cipinang, dan yang juga sering membawakan tas ransel saya saat saya baru pulang dari Jerman, dan saya jadi Saksi meringankan kasus politik di Jerman, Sri Bintang Pamungkas di Pengadilan Jakarta akhir tahun 1995, lalu kemudian dia jadi tokoh Aktivis populer dan kemudian menyebrang ke Prabowo, itu juga tidak.
Saya kesal dan mulai berteriak kencang mengkritisi Jokowi, karena saya perhatikan Jokowi sudah jauh melenceng dari cita-cita Reformasi '98 yang dahulu kami semua perjuangkan.