Pengadaan kendaraan dinas dan operasional pemerintah dapat menjadi instrumen untuk menciptakan permintaan pasar bagi produk lokal.
Baca Juga: Siasat Ban Bocor Berujung Maut: Pemuda di Lampung Tega Bunuh Sepupu Sendiri
Namun, kebijakan tersebut perlu memastikan keberpihakan terhadap produk yang benar-benar dikembangkan dan diproduksi oleh industri nasional, bukan semata-mata kendaraan merek asing yang dirakit di dalam negeri atau Completely Knocked Down (CKD).
Ketiga, keberpihakan terhadap pasar domestik. Industri lokal membutuhkan perlindungan dan kebijakan yang mampu menciptakan persaingan sehat dengan produk impor.
Produsen dalam negeri tidak seharusnya dibiarkan menghadapi persaingan secara timpang dengan perusahaan asing yang memiliki dukungan modal, teknologi, dan ekosistem industri kuat dari negara asalnya.
Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting apabila Indonesia benar-benar ingin membangun industri kendaraan listrik yang berdaya saing.
Baca Juga: Subulussalam dan Aceh Selatan Lumpuh, Ribuan Rumah Terendam Banjir Bandang
Bukan Terlambat, tetapi Konsistensi yang Dipertanyakan
Indonesia sesungguhnya masih memiliki peluang untuk mengambil peran strategis dalam industri otomotif listrik global. Namun, peluang tersebut tidak akan berarti banyak apabila pemerintah terus mengulang wacana tanpa membangun kesinambungan kebijakan.
Pengalaman produk lokal seperti Gesits seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa membangun industri nasional tidak cukup hanya dengan melahirkan gagasan dan proyek baru.
Diperlukan keberanian untuk memperkuat produk yang sudah ada, memberikan dukungan pembiayaan, mengembangkan riset, membangun rantai pasok, serta memastikan keberlanjutan pasar bagi hasil karya anak bangsa.
Karena itu, pernyataan Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, mengenai peluang Indonesia mengejar industri kendaraan listrik perlu diikuti langkah konkret yang terukur. Momentum perkembangan teknologi baterai memang tidak boleh disia-siakan.
Baca Juga: Mengenal LIMS, Sistem yang Dipakai Listyo Sigit cs untuk Menyadap Presiden Prabowo
Namun, keberhasilan industri otomotif nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa sering optimisme disampaikan, melainkan oleh kemampuan negara menjaga konsistensi kebijakan dan keberpihakan terhadap industri dalam negeri.
Indonesia bukan hanya membutuhkan keyakinan bahwa dirinya belum terlambat. Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan komitmen untuk tidak kembali meninggalkan para perintis industri nasional yang telah lebih dahulu berjuang.