Minggu, 19 Juli 2026

Menyelami Politik Uang Dalam Kompetisi Pilkada

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Jumat, 14 Juni 2024 | 22:03 WIB
Ilustrasi memilih karena uang  (Foto istimewa )
Ilustrasi memilih karena uang (Foto istimewa )

Gerakan Mao awalnya usaha bersama mengusir penjajah Jepang, namun karena keroposnya aparat yang akut, maka sebagian aparat diam - diam membelot mendukung gerakan rakyat menuju perubahan yang lebih baik. Akhirnya bangkitlah gerakan revolusioner untuk melakukan reformasi total terhadap pemerintahan yang telah rusak.

Baca Juga: Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024

Kita semua berharap negeri ini baik - baik saja, namun perilaku korup dan menjadikan politik sebagai komuditas memang sangat berbahaya untuk masa depan bangsa. Maka mulai dari diri kita, saatnya berfikir positif dan berbuat baik pada bangsa dan negara untuk kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semoga memberikan pencerahan kita semua

Potret Politik Uang Dalam Pilkada 2024

Nuansa politik uang dalam Pilkada 2024 kelihatannya belum bergeser dengan Pemilu Legislatif Tahun 2024. Hal itu bisa kita dengar dari desas desus para pemilih yang berfikir sederhana tapi rasional. Calon Bupati yang kita pilih besok akan memiliki kekuasaan untuk mengatur uang dan juga ingin mendapatkan uang. Maka jika nanti tidak memberi uang maka tidak akan dipilih, tidak berhenti sampai disitu, nanti jika semua memberi uang yang kita pilih yang memberikan terbanyak. Perilaku pemilih yang seperti ini harus menjadi perhatian bagi semua calon yang akan ikut dalam kompetisi.

Baca Juga: Bias Perjuang Kader NU di Zaman Now

Ungkapan di atas adalah realita yang terjadi di masyarakat, maka siapapun yang mencalonkan harus berfikir serius, jika tidak punya uang tidak usah maju dalam Pilkada. Pilkada bukan urusan ego sektoral untuk memenangkan kader yang dianggap baik, hasil istikhoroh, waktunya kader sebuah organisasi tertentu yang mimpin, kecewa karena dulu kader yang menjabat diganti tanpa koordinasi atau alasan lain klasik lainnya.

Politik kekuasaan syarat kepentingan global yang menyangkut aspek ekonomi dan agenda membangun infrastruktur. Maka jangan bermain setengah - setengah, mengedepan emosi dan ego kelompok untuk mengusung seorang calon. Kasihan nanti warga organisasi yang akan menjadi korban salah perhitungan dan keangkuhan pribadi.

Baca Juga: Bunda Ita Maju Cabup Nganjuk, Pertarungan Politik Semakin Seru!!

Kepada rakyat pemilih yang cerdas, saatnya menggunakan kemerdekaan hak pilihnya untuk menentukan calon yang bermanfaat bagi kemajuan yang kita cintai. Kita butuh Manajer Birokrasi yang handal, berpengalaman dan tahu masalah rakyat, bukan yang coba - coba!!

Hanya sebuah catatan sederhana, semoga menginspirasi siapa saja yang ingin memiliki bupati yang mengerti dan bermanfaat!!

 

Nganjuk, 14 Juni 2024
Penulis HM Basori M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy

 

 

 

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: HM Basori M.Si Direktur Sekolah Perubahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB