NAWACITAPOST.COM - Entah siapa yang memulai, terus entah siapa yang salah, di Negeri se elok dan sebagus Indonesia ini rakyatnya begitu bernafsu dan senang kalau urusan pilih memilih pasti bertanya uangnya ada apa tidak, berapa, ambil ke siapa dan kapan??? Namun inilah realita politik. Politik sebenarnya sangat mulia dan penting, karena semua kebijakan pemerintah dilakukan melalui proses politik. Namun saat semua dihitung dengan uang, maka jadinya semua kacau.
Keluguan rakyat dan kejujuran rakyat merasa dikhianati oleh wakilnya di legislatif dan eksekutif yang ternyata menampilkan hidup mewah, penampilan perlente, mobil bagus dan melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dengan terbuka. Perilaku pejabat selalu dipantau dan dinilai oleh rakyat apapun itu, maka setelah dia tahu apa yang mereka lakukan tidak benar, pelan - pelan kepercayaan itu hilang.
Baca Juga: Ansor dan Dinamika Politik Indonesia
Rakyat melihat dan memahami jika urusan mendapatkan jabatan dan kekuasaan mulai Pilkades, pilihan Anggota DPR-DPRD-DPD, Bupati dan semua jabatan di birokrasi kuncinya adalah uang. Mereka mendapatkan jabatan dengan membeli, terus ingin mengembalikan modal, dari modal yang dikeluarkan berharap mendapat tambahan atau untung. Pendapat seperti itu sudah mendarah dan mendaging dalam kehidupan masyarakat kita.
Cara Berfikir Menentukan Pilihan
Dalam pilihan apa saja, masing - masing orang pasti mendapatkan amplop minimal 2 orang bahkan lebih. Jika hak pilihnya hanya satu, maka mereka mesti membagi suara dengan rata, atas nama kemanusiaan, kasihan dan perasaan tidak enak. Program yang diberikan oleh anggota DPRD incumbent tidak menjadi pertimbangan strategis. Karena realitanya dia dapat amplop lebih dari satu, yang memberi harus diberi dukungan sebagai bentuk tanggungjawab.
Baca Juga: Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU
Kecuali calonnya memang sangat baik, maka jurus dewa mabuknya adalah mendukung orang yang telah berbuat dan memang loyal dengan pemilihnya. Uang dalam setiap pemilihan telah menjadi panglima, maka banyak calon yang kecewa bahkan gagal karena pemilih memang sudah cerdas. Begitulah psikologi pemilih saat ini. Teori politik dan strategi konsultan pemenangan tidak mampu merubah pola pikir masyarakat. Konsultan pemenangan hanya memetakan keinginan pemilih, memetakan kecenderungan memilih dan memastikan dia memberikan dukungan dengan pasti saat amunisi diberikan.
Politik beserta daya dukungan lainnya sudah menjadi sebuah komuditas (seperti barang dagangan) yang bisa dijual dan dibeli. Maka keroposnya idealisme sebuah kelompok masyarakat sangat membahayakan kelangsungan demokrasi yang sebenarnya sangat baik dalam sebuah kompetisi politik.
Baca Juga: Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Kekecewaan Politik
Kalau kita mau menyelami pikiran rakyat mengapa cara berfikirnya seperti itu??? Semua karena ada yang di tiru, diajari tidak jujur dan diajak bersama - sama membohongi diri sendiri. Perilaku politik rakyat tersebut sebenarnya buah kekecewaan terhadap para wakil yang mestinya memberikan contoh dan tauladan yang baik.
Maka, kita perlu waspada dan berhati - hati, kekecewaan politik akan melahirkan solidaritas bersama untuk melawan kebijakan yang merugikan kepentingan mereka. Desa memiliki kekuatan riil untuk mengkonsolidasikan agenda dan gerakan massa.
Baca Juga: Mencermati Ritual Pilkada Antara Drama dan Realita
Teori Mao Zedong yang dilakukan oleh rakyat kecil Partai Komunis Cina untuk melawan penjajahan Jepang, semua dilakukan dengan diam - diam baik aspek ekonomi maupun lainnya terkonsolidir dengan baik dan silen. Setelah penggalangan kekuatan mereka siap, maka mereka melawan kekuatan yang dianggap telah menjajah kemerdekaan rakyat kecil.
Artikel Terkait
Ansor dan Dinamika Politik Indonesia
Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU
Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU
Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Mencermati Ritual Pilkada Antara Drama dan Realita
Membayangkan NU Nganjuk Tetap Menjadi Pemenang Dalam Pilkada Bupati 2024
Bias Perjuang Kader NU di Zaman Now
Bunda Ita Maju Cabup Nganjuk, Pertarungan Politik Semakin Seru!!