NAWACITAPOST.COM — Penutupan Stasiun Karet sejak Selasa (1/9) lalu memicu gelombang repons dramatis dari para pengguna KRL. Penutupan akses stasiun tersebut memaksa ribuan komuter mengalihkan perjalanan mereka melalui Stasiun BNI City, yang diwarnai keluhan rute panjang hingga fasilitas darurat yang unik di area selasar.
Sejumlah komuter mengeluhkan jarak tempuh tambahan yang mencapai 10 hingga 15 menit berjalan kaki dari rute sebelumnya. Pengguna jasa KRL harus menyesuaikan ulang jadwal keberangkatan mereka demi menghindari keterlambatan tiba di tempat kerja.
“Jujur mau nangis banget pagi-pagi, karena biasanya turun kereta nyebrang dan jalan dikit aja bisa langsung ketemu abang grab, kalo ini harus naik turun tangga,” tulis pemilik akun Threads @devaputs.
Baca Juga: Redam Amarah Warga Pancaroba, Bupati Kubu Raya Turun Tangan Turunkan Debu Trans Kalimantan
Dampak fisik perjalanan menuju lokasi baru ini juga disuarakan oleh pemilik akun @saliissaa_. Menggambarkan rute ke Stasiun BNI City layaknya ajang olahraga rutin harian, ia menyebut kondisi perjalanan cukup menguras tenaga.
“Gobyos banget sampe kantor basah kuyup, ohlaraga tiap hari semangat kaki naik turun tangga + jalan kaki 15 menit,” tulisnya.
Namun, tidak sedikit warganet yang memberikan sudut pandang berseberangan. Beberapa unggahan menilai keluhan tersebut muncul lantaran minimnya budaya berjalan kaki masyarakat.
“Makanya dibiasain jalan kaki, bayar murah pengen dapat fasilitas bintang lima, di negara maju, masyarakatnya terbiasa jalan kaki 3 km,” posting akun @reynaldoaritonang96 pada Selasa (1/9).
Baca Juga: Momentum Kejaksaan Ke-81: Pemkot Bekasi Perkuat Sinergi Restorative Justice dan Perwalian Anak
Ia menambahi, “Jangan ngeluh, bersyukur aja, pompa jantung kalian dengan jalan kaki, jangan keseringan rebahan, keringat itu baik buat ngebuang racun dalam tubuh.”
Tenda Panjang Curi Perhatian
Dramatika peralihan rute ini mencapai puncaknya pada Kamis (3/9) ketika lorong pejalan kaki Stasiun BNI City mendadak berubah pemandangan. Pemasangan tenda panggung yang memanjang di sepanjang selasar sempat memicu spekulasi warganet bahwa area tersebut akan dijadikan tempat hajatan atau festival kuliner.
“Di selasar bni city sudah dipasangin tenda,” unggah akun @eraanggreani saat membagikan kondisi terkini area tersebut.
Nada gurauan merespons pemandangan unik tersebut turut meramaikan jagat maya.
“Semoga besok pagi sudah jadi stall siomay, dimsum, dan ice creamnya ya kak,” tulis pemilik akun @blacksp_.
Menanggapi kehebohan warga di media sosial, pengelola transportasi publik merespons langsung guna meluruskan fungsi fasilitas peneduh sementara tersebut. Melalui akun Threads resminya, pihak pengelola memastikan pemasangan kanopi darurat itu merupakan langkah optimalisasi layanan.
“Hai, Kak. Saat ini fasilitas penunjang di area selasar Stasiun BNI City terus kami upayakan agar perjalanan pelanggan tetap nyaman,” unggah akun resmi KRL, @commuterline.
Pihak operator menambahkan, “Termasuk penyediaan tenda guna kenyamanan para pelanggan menuju area selasar ya, Kak, terima kasih.”
Kepastian fungsi fasilitas peneduh dari terik dan hujan tersebut mendapat apresiasi dari sebagian pengguna jasa transportasi massa yang memanfaatkan jalur integrasi baru ini.
“Terimakasih min sudah memperhatikan kenyamanan kami,” tulis akun @eraanggreani dalam respons lanjutannya.
Dinamika respons warga diprediksi masih akan terus mewarnai masa transisi pascapenutupan Stasiun Karet, di mana ketertiban serta kelancaran mobilisasi penumpang tetap menjadi fokus utama di lapangan.(***)