Koalisi Darah dan Aliansi Mahasiswa: "Kami Tidak Akan Tinggal Diam!"
Perjuangan ini bukan lagi milik sekelompok orang, melainkan telah menjelma menjadi gerakan sosial.
-
FK ALAM (Darma Bakti Siregar): Memperingatkan bahwa jika kasus ini dibiarkan kalah, maka ini akan menjadi preseden buruk dan ancaman nyata bagi seluruh masyarakat adat di wilayah Sumatera Utara.
-
Aliansi Mahasiswa Tabagsel: Berikrar akan mengawal kasus ini sampai titik darah penghabisan, siap mengobarkan informasi ke publik, dan menghadang segala bentuk kesewenang-wenangan penguasa modal.
Tiga Tuntutan Mati (Ulitmatum Akhir):
Dalam pernyataan penutup yang menggetarkan Bagas Godang Marancar, masyarakat adat melayangkan 3 tuntutan mutlak yang Tidak Dapat Dikompromikan:
- Kosongkan Lahan: PT AR Batang Toru wajib mengosongkan lahan 190 Hektar jika tidak ada ganti rugi.
- Bayar Penuh: Menuntut PT AR segera membayar ganti rugi penuh sesuai dengan nilai harga pasar saat ini.
- Aksi Massa Total: Jika poin 1 dan 2 diabaikan, Parsadaan Siregar Siagian bersama aliansi akan menggelar unjuk rasa besar-besaran dan menduduki lahan.
Baca Juga: Sentuhan Kasih dan Kolaborasi Hebat, Pelepasan Siswa TK Tarakanita Solo Baru Berlangsung Meriah!
"Kami berjuang bukan untuk hal yang berlebihan, tapi hanya untuk apa yang menjadi hak kami. Di tempat bersejarah ini, di Bagas Godang Marancar, gerakan ini dimulai. Perjuangan ini akan terus berkelanjutan sampai kebenaran dan keadilan tercapai!" ujar RHa Hasibuan.
Masyarakat kini menanti, akankah PT Agincourt Resources bertekuk lutut menghormati hak adat, ataukah Sumatera Utara akan menyaksikan salah satu gelombang demonstrasi terbesar dalam sejarah konflik agraria modern? Bola panas kini ada di tangan Pemerintah dan Penegak Hukum.(Lesmanan.H)