Nganjuk, NAWACITAPOST.COM - Menanggapi adanya gagal panen yang terjadi di sawah yang ada di Desa Kedungglugu, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur Ketua kelompok tani bagian Desa Mabung Sutikno membenarkan.
Informasi yang dihimpun jurnalis Nawacitapost.com pada berita sebelumnya yang berjudul "Ratusan Hektar Sawah Terendam Banjir, Dua Tahun Para Petani Gagal Panen" bahwa Pemerintah akan membuat aliran pembuangan air atau patusan pada tahun 2023.
Ketika dikonfirmasi jurnalis Nawacitapost.com Sutikno di kediamannya, yang juga Ketua Rukun Warga (RW) 02, Desa Mabung, Kecamatan Baron, Nganjuk mengatakan pihaknya membenarkan informasi tersebut dan sudah ada kesepakatan sudah ada kesepakatan untuk membuat pembuang air atau patusan pada Rabu (25/05/2022) bersama dengan berbagai pihak.
"Sebenarnya petani sudah tidak sabar, karena ini membutuhkan anggaran dengan nominal besar, uang dari mana," kata Sutikno dikediamannya pada Rabu, (07/09/2022).
Sutikno menambahkan bahwa dari kegagalan panen tersebut mengakibatkan warga petani kehilangan gabah sekitar delapan (8) ton per satu (1) hektar.
"Dalam satu (1) hektar itu biasanya paling rendah menghasilkan gabah tujuh (7) ton hingga maksimal sembilan (9) ton, dan saya sudah seringkali melaporkan hal tersebut namun tidak ada ganti rugi modal dari pihak terkait," imbuh Sutikno.
Sutikno menjelaskan bahwa pernah melaporkan melalui Baron namun pada akhirnya diambil alih oleh Gondang, terkait lokasi atau pelaporan menurut kelompok dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Gondang.
"Sebenarnya kita sudah sering laporan kepada Pak Darno PPL Gondang, terkait kegagalan panen kita, dan jawaban dari Pak Darno iya saja namun tidak pernah di cek kelapangan, karena sawah warga Mabung di situ ada sekitar kurang lebih seratus hektar," jelas Sutikno.
Begitu pula Novan Andri Setiawan petani asal Desa Mabung yang memiliki lahan sawah di Desa Kedungglugu juga berharap pembangunan aliran pembuangan air atau patusan bisa segera direalisasikan.
"Karena kurang lebih sekitar dua (2) tahun kita sudah gagal panen, apalagi ini adalah mata pencaharian satu-satunya yang mana kita semua hanya mengandalkan hasil dari pertanian," kata Novan Andri Setiawan yang biasa disapa akrab Andri.
Andri menambahkan bahwa, apakah ini tidak bisa diprioritaskan atau dimasukkan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK), dan tidak perlu menunggu lama lagi.
"Ya mohon kalau memang bisa dimasukkan ke dalam PAK," imbuh Andri.
Tidak ketinggalan Harianto Petani asal Desa Mabung mengatakan bahwa luasan lahan sawah yang ada di wilayah tersebut sekitar seratus (100) hektar, dan hasil rata-rata per satu (1) hektar tujuh (7) ton hingga sembilan (9) ton.
"Ya kalau dikalikan dengan seratus (100) hektar lahan sawah, ya gabah yang hilang karena gagal panen tersebut mencapai sekitar tujuh ratus (700) ton hingga sembilan (900) ratus ton, per satu kali panen" kata Harianto.