Erick mengatakan pada Kamis (22/10). Kementerian BUMN telah tugaskan perusahaan BUMN di klaster energi dan minerba, seperti PLN, Pertamina, MIND ID (holding BUMN tambang), Bukit Asam, untuk terus berinvestasi demi energi masa depan. Ia juga menjabarkan sejumlah transformasi energi yang sudah dijalankan meliputi pengembangan program campuran solar dengan minyak kelapa sawit atau biodiesel. Saat ini, program B30 telah berjalan dan targetnya bisa menjadi B100.
Baca Juga : Perangkat Desa Morosunggingan Terpilih Resmi Dilantik
Selain itu, pemerintah telah menjalankan percepatan program gasifikasi batu bara menjadi metanol dan Dimethyl Ether (DME). "Upaya ini diyakini mampu mengurangi impor elpiji yang sekarang mencapai 6 juta metrik ton," ungkap Erick.
Kementerian BUMN juga mendorong PLN untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan global untuk pengembangan EBT. Salah satunya kerja sama PLN dengan BUMN Uni Emirat Arab bidang energi, Masdar untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kapasitas 145 MWAC. "Oleh karena itu, kami sedang petakan potensi EBT yang ada di Indonesia dan kami prioritaskan mulai dari kepulauan, karena saat ini saat ini beberapa daerah memiliki kapasitas yang berlebih akibat pandemi covid-19," lanjutnya.
Ia menyebutkan bahwa, Kementerian ESDM menargetkan pemanfaatan EBT pada bauran energi nasional mencapai 23 persen pada 2025. Namun, per 2019 lalu capaiannya baru sebesar 9,15 persen.