"Beberapa wartawan sudah pernah saya kasih nomor, jadinya berantem dengan saya. Kalau gak saya angkat, mereka marah-marah, bilang Bea Cukai seperti kata kotor. Daripada saya kejadian lagi," tambahnya tanpa beban.
Sikap membentengi diri dari konfirmasi ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya sistem pengawasan dan keterbukaan informasi di KPPBC Tipe C Sibolga. Publik kini menuntut ketegasan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pusat serta Kementerian Keuangan untuk mengevaluasi kinerja internal Bea Cukai Sibolga, yang alih-alih memburu pelaku kejahatan ekonomi, justru memilih "tidur nyenyak" di balik alasan anggaran.
Tim Liputan: Jhon Henri Silaban / SS
Artikel Terkait
Sepulang dari China, Ketua DPRD Kota Bekasi Tancap Gas Sulap Bantargebang Jadi Episentrum Energi Hijau!
Skandal Digital Pesawaran: Rp6,8 Juta per Mbps, Anggaran Internet Kominfo Diduga Di-Markup Gila-gilaan!
Ratusan Miliar Belanja "Di Atas Kertas", PAD Bocor Diduga Ada yang Dilindungi!
Misteri "Ruang Gelap" Anggaran Media Batam: Perwako Kabur, Kominfo Berlindung di Balik Dalih Rahasia Dinas
Fajar Baru Pengelolaan Sampah Modern: DPRD Kota Bekasi Kawal Ketat Lahan PSEL Sumurbatu Menuju Ground Breaking!