NAWACITAPOST.COM — Aroma ketidakadilan menyengat hebat di salah satu desa di Kota Padangsidimpuan. Isu penggelapan dana bantuan bencana meledak menjadi bola api yang siap menghanguskan kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi. Bagaimana tidak? Dari 127 Kepala Keluarga (KK) korban banjir yang didata secara resmi, secara misterius hanya 49 KK yang menerima bantuan.
78 KK lainnya seolah "dilenyapkan" dari daftar penerima oleh tangan-tangan tak terlihat.
Massa Mengepung Kantor Desa: Jangan Makan Hak Kami!
Sementara itu, suasana di halaman salah satu kantor desa mendadak mencekam, dikarenakan gelombang amarah warga tak terbendung lagi. Aksi unjuk rasa pecah; teriakan menuntut keadilan menggema di tengah sisa-sisa trauma bencana banjir yang belum usai. Warga yang semula mencurigai adanya main mata di tingkat desa, langsung berhadapan dengan kenyataan pahit dari mulut sang Kepala Desa.
Kades Menepis: "Data Kami Utuh, Tapi Turunnya Cacat!"
Di bawah tekanan massa, Kepala Desa itu akhirnya buka suara dengan nada bicara yang penuh kekecewaan sekaligus pembelaan diri. Ia menegaskan bahwa pihak desa telah bekerja sesuai prosedur.
"Benar Pak, data yang kami serahkan ke Dinas itu 127 KK. Itu semua warga kami yang rumahnya rusak dan butuh pertolongan. Kami laporkan semuanya tanpa ada yang dikurangi!" tegas Kepala Desa di hadapan warga yang emosi.
Namun, ia mengaku tak berdaya saat bantuan yang tiba justru jauh dari jumlah yang diusulkan. "Realisasinya hanya 49 KK. Sisanya tidak ada kabar, hilang ditelan bumi. Saya tegaskan, bukan pihak desa yang menggelapkan! Kami juga bingung, kami juga marah!"
Ketimpangan yang Menyakitkan: Ada yang Terima 1,8 Juta, Ada yang "Recehan"
Keanehan tidak berhenti pada hilangnya puluhan nama. Kesenjangan nilai bantuan yang turun ke tangan warga sangat tidak masuk akal dan memicu kecurigaan adanya manipulasi data di tingkat atas.
- Penerima Tertinggi: Rp 1.800.000
- Penerima Terendah: Rp 450.000
Perbedaan mencolok hingga 4 kali lipat ini menjadi tanda tanya besar. Padahal, beban penderitaan dan tingkat kerusakan rumah warga rata-rata sama. Mengapa ada sekat-sekat nominal yang sangat lebar di tengah bencana yang serupa?
Baca Juga: Misteri di Balik Senyum Pejabat: Ketika Megahnya Seremoni Menjadi Luka Bagi Rakyat Padangsidimpuan
Pertanyaan Besar: Di Mana Dana Prabowo dan Bobby Nasution?
Kini, bola panas bergulir liar ke arah Pemerintah Daerah dan instansi terkait. Warga yang mulai paham akan alur bantuan kini melontarkan pertanyaan tajam yang menembus jantung birokrasi. Mereka menuntut transparansi mengenai aliran dana dari pucuk pimpinan negara.
Warga Menggugat:
- Bantuan Presiden RI, Prabowo Subianto, yang seharusnya menjadi penyambung nyawa korban bencana, ke mana rimbanya?
- Dana Kementerian Sosial (Kemensos), yang dianggarkan untuk jaminan hidup, mengapa tak menyentuh semua pintu?
- Bantuan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang sudah diumumkan ke publik, mengapa menguap di tengah jalan?
"Apakah dana ini sudah cair ke Kas Daerah tapi mengendap? Atau diduga kuat ada 'tikus-tikus' yang menilep hak kami di tengah jalan sebelum sampai ke tangan warga yang rumahnya hancur?" pungkas salah satu warga.
Kini rakyat menunggu. Jika 127 KK dikirim namun hanya 49 KK yang dikabulkan, maka ada 78 nasib warga yang kini terkatung-katung tanpa kejelasan. Siapa yang harus bertanggung jawab atas hilangnya hak-hak rakyat kecil ini?(Lesmanan.H)
Artikel Terkait
Teka-Teki Dana Triliunan Pascabencana, Mengapa Padangsidimpuan Masih "Mati Suri" Saat Tapsel Mulai Bersemi?
Skandal Dana Banjir Padangsidimpuan: Saut Harahap Dikecam Jadi "Pengacara Bayangan" Pemkot, Ke Mana Larinya Miliaran Rupiah Rakyat?
Dugaan Mega Skandal Bantuan Banjir Padangsidimpuan: 1.133 KK Jadi Korban Ketidakterbukaan Anggaran Pusat dan Daerah
Menggali Lubang Di Atas Penderitaan: Misteri Lenyapnya Rp4 Miliar Dana Bencana Padangsidimpuan
Skandal Besar Dugaan Korupsi Dana Bencana Padangsidimpuan, Uang Rakyat Raib Sebelum Sampai Tangan!