NAWACITAPOST.COM — Menjelang perayaan satu abad perjalanan panas bumi di Indonesia yang berakar dari penemuan potensi pertama di Kamojang pada 1926, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) tancap gas mempercepat ekspansi bisnis.
Perseroan menargetkan peningkatkan kapasitas terpasang mandiri (own operation) dari 727 megawatt (MW) saat ini menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan menembus 1,8 GW pada 2033.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa momentum satu abad panas bumi nasional ini menjadi pelecut semangat untuk menyelaraskan kinerja bisnis yang solid dengan komitmen transisi energi nasional.
“Tujuan kami adalah untuk melayani masyarakat, baik dengan menyediakan pasokan listrik berbasis energi panas bumi yang tersedia setiap saat maupun Beyond Electricity. Sejalan dengan agenda pemerintah dalam mendorong transisi energi dan ketahanan energi nasional, ekspansi bisnis yang kami lakukan difokuskan untuk memberikan manfaat panas bumi sebesar-besarnya. Oleh karena itu, kinerja positif ini menjadi bekal bagi kami untuk melayani masyarakat,” jelas Ahmad Yani.
Kinerja Keuangan Melesat dan Rekor Produksi Listrik
Langkah agresif PGE tersebut disokong oleh torehan finansial yang solid sepanjang kuartal III-2026. Laba bersih Perseroan tumbuh signifikan sebesar 21,45 persen secara year-on-year (YoY) mencapai US$126,62 juta per 30 September 2026.
Pertumbuhan laba bersih ini melampaui kenaikan pendapatan yang tercatat sebesar US$352,20 juta (naik 10,46 persen YoY). Selain itu, EBITDA Perseroan mencapai US$287,77 juta (naik 15,58 persen YoY) dengan posisi kas dan setara kas yang kuat sebesar US$713,68 juta, serta penurunan total liabilitas sebesar 3,37 persen menjadi US$955,55 juta.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, menguraikan bahwa pencapaian ini membuktikan efektivitas penerapan prinsip pertumbuhan yang disiplin (growth with discipline).
“Proyek panas bumi PGE adalah proyek jangka panjang yang berjalan multi-years. Karena itu, pertumbuhan tidak hanya diukur dari penambahan kapasitas, tetapi juga dari kemampuan Perseroan menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan di setiap tahap pengembangan. Dengan prinsip growth with discipline, kami memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas, menguntungkan, dan berkelanjutan. Harapannya, investasi yang kami tanam hari ini dapat memberikan multiplier effect bagi perekonomian dan masyarakat,” ujar Fransetya.
Dari operasional lapangan, PGE berhasil mencetak rekor tertinggi (all-time high) produksi listrik panas bumi untuk periode sembilan bulan, yakni sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh). Angka ini tumbuh 9,86 persen dibandingkan periode sama tahun lalu dan merealisasikan 108,22 persen dari target awal sebesar 3.801 GWh.
Akselerasi Pengeboran dan Proyek Strategis
Guna mengejar target 1 GW pada 2028, PGE mengintensifkan aktivitas pengeboran serta memprioritaskan 12 proyek strategis berkapasitas total 320 MW. Bahkan, lima proyek di antaranya (kapasitas 105 MW) resmi diakselerasi agar dapat beroperasi sebelum 2028.
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Hadiri Fesbuk ke-5: Meriahkan Kebersamaan Menuju Porprov Jabar 2026
Beberapa proyek kunci yang tengah digulirkan mencakup PLTP Hululais Unit 1 & 2 (siap tahap EPCC dan target operasi 2028), PLTP Lumut Balai Unit 3 & 4 (sudah memegang PPA dan proses FEED, target operasi 2030), serta PLTP Lahendong Unit 7 & 8.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan baru dan optimalisasi aset eksisting.
“Pengeboran menjadi salah satu langkah konkret PGE dalam mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi, baik untuk membuka potensi kapasitas baru maupun mengoptimalkan aset yang telah beroperasi. Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,” kata Edwil.
Sebagai bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero), PGE kini mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW (727 MW dikelola mandiri dan 1.205 MW skema KOB).
Berkontribusi sekitar 70 persen terhadap kapasitas panas bumi nasional, PGE terus memperkokoh posisinya sebagai pionir energi bersih yang berpotensi mengurangi emisi hingga 10 juta ton CO2 per tahun.(***)