NAWACITAPOST.COM — Kepanikan melanda Kabupaten Batang, Jawa Tengah, usai sirene ambulans saling bersahutan menembus kegelapan malam pada Rabu (23/9/2026).
Ratusan korban yang mendadak mual dan mengalami diare hebat dilarikan secara bergelombang ke sejumlah fasilitas kesehatan. Insiden keracunan massal ini diduga kuat dipicu oleh konsumsi menu telur bolognese dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga Rabu malam, data mencatat sedikitnya 276 korban yang terdiri dari siswa hingga orang tua murid dirujuk ke empat layanan kesehatan, yakni RSUD Kalisari Batang, RSU Limpung, Puskesmas Batang, dan Puskesmas Subah.
Dampak hidangan ini bahkan tak hanya menimpa anak-anak penerima manfaat, tetapi juga para orang tua yang mengonsumsi sisa makanan tersebut di rumah.
Salah satu korban, Nur Hayati (43), harus dilarikan ke RSUD Kalisari Batang setelah mencicipi sisa santapan MBG milik anaknya yang masih berada di jenjang PAUD pada Selasa (22/9/2026) siang.
Suami korban, Saadullah, menuturkan bahwa gejalanya mulai menyerang pada Selasa malam secara bertahap dan makin memburuk.
“Anak saya pulang sekolah bawa MBG, sisanya dimakan ibunya. Habis itu baru terasa malamnya,” ujar Saadullah saat ditemui wartawan di RSUD Batang, Rabu (23/9/2026).
Awalnya, keluarga menduga Nur Hayati hanya masuk angin biasa atau mengalami komplikasi akibat riwayat diabetes.
“Malam itu terasa, kemarin malam berarti, (dia) ke kamar mandi terus, terus sampai saya kerokin, tak kira masuk angin,” imbuhnya.
Kepanikan keluarga baru terkonfirmasi setelah unggahan di grup percakapan digital dipenuhi laporan senada dari para wali murid lainnya.
“Baru menyadari dari grup WhatsApp. Dari seharian tidur itu di grup pada kayak gitu, baru tahu ini kena MBG,” tambahnya.
Santapan bermasalah tersebut diketahui diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang yang mendistribusikan makanan ke 2.700 penerima manfaat di 11 sekolah.
Pada Selasa (22/9/2026), paket menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, telur bolognese, sayur, tahu mendoan, dan buah anggur. Korban mengaku mengonsumsi sisa olahan telur dari paket tersebut.
Merespons peristiwa tragis ini, Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Satgas MBG Batang, Suyono, turun langsung memantau kondisi para korban di RSUD Batang. Ia menegaskan agar seluruh pengelola dapur umum disiplin menerapkan standar operasional prosedur (SOP).
“Jaga SOP benar-benar karena berkaitan dengan makan yang bisa menimbulkan kalau ada salah dari masak atau tidak sehat, akan menimbulkan keracunan. Ini rawan sekali,” ujar Suyono.
Baca Juga: Revolusi Logistik: Kementerian Keuangan Rilis Aturan Baru Impor Ekspor Returnable Package
Suyono juga menginstruksikan tindakan tegas berupa penghentian sementara operasional dapur pemasok untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
“Yang punya SPPG, hati-hati. SOP dipegang teguh, jangan sampai menimbulkan keracunan berikutnya yang bahkan bisa mengancam nyawa manusia,” tegasnya.
“Iya diberhentikan SPPG itu,” tukasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG Bawang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kelalaian pengolahan makanan tersebut dan memilih membatasi akses akun media sosial mereka.