Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Perdagangan mengingatkan pentingnya memastikan kesiapan pedagang, konsumen dan aktivitas ekonomi sebelum pembangunan pasar baru dilakukan. Pemkab selanjutnya akan melengkapi dokumen perencanaan dan memperbarui usulan sesuai mekanisme Kementerian Perdagangan.
Dorong Perdagangan Digital
Strategi Nias Barat Trade Connect juga mencakup perluasan pemasaran melalui perdagangan elektronik. Namun, Pemkab menilai pemasaran digital perlu didukung kesiapan produk, antara lain kualitas, kemasan, harga, kontinuitas pasokan dan biaya logistik.
Produk turunan kelapa seperti virgin coconut oil (VCO), hasil perikanan dan kelautan, pangan lokal, kuliner, serta produk kreatif berbasis budaya menjadi bagian dari komoditas yang akan didorong memperoleh nilai tambah lebih tinggi.
Baca Juga: Dermaga Gunungsitoli Diperbaiki, Pelindo Optimistis Segera Siap Operasi
Pemkab Nias Barat mencatat sedikitnya lima agenda yang akan ditindaklanjuti bersama Kementerian Perdagangan, yakni revitalisasi Pasar Mandrehe, pembangunan Pasar Sitolubanua, penguatan distribusi dan logistik, pemasaran serta perdagangan digital, dan pembentukan focal point Kemendag–Pemkab Nias Barat untuk menyusun Action Plan Nias Barat Trade Connect 2027–2029.
Eliyunus mengatakan penguatan perdagangan diarahkan agar produk daerah tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat menghasilkan nilai tambah, transaksi, lapangan kerja dan pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat Nias Barat.
“Kita ingin kekayaan yang lahir dari desa-desa Nias Barat berkembang menjadi produk dan transaksi yang memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat,” katanya.(Yogi)