Pelantikan mendadak ini menggelinding bagai bola panas setelah Nanik S Deyang secara mengejutkan memilih mundur dari jabatannya. Nanik mengundurkan diri tepat di hari yang sama demi fokus menjalani pengobatan jantung intensif di luar negeri. Keputusan dramatis ini memaksa pimpinan tertinggi bergerak cepat demi menyelamatkan salah satu program paling krusial di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
Baca Juga: Rp300 Juta Diduga Raib Tanpa Bangunan, Warga Sihitang Desak Kejatisu Periksa Peran Mantan Sekda Letnan Dalimunthe“Ini amanah besar bagi saya karena memang program makan bergizi gratis ini adalah program besar, grande, dan satu di antara program prioritas Bapak Prabowo Subianto dan Pak Gibran Rakabuming Raka,” tegas Sudaryono usai prosesi pelantikan di Istana Negara.
Gebrakan Pertama: Bersih-Bersih Sistem & Tebas 'Konflik Kepentingan'
Sadar dirinya masuk ke dalam gelanggang penuh tekanan, Sudaryono tak membuang waktu. Di hadapan kerumunan awak media, ia langsung pasang badan dan memberikan pernyataan menohok untuk menepis isu miring seputar kepemilikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
-
Bebas Kepentingan: “Enggak ada, enggak ada. Saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur, tidak ada keluarga saya yang punya dapur dan punya SPPG,” serunya dengan nada mantap.
-
Digitalisasi Radikal: Sudaryono berjanji membongkar sistem lama yang mengandalkan pencatatan manual dan rentan dimanipulasi.
-
Transparansi Tanpa Kompromi: “Yang tidak transparan harus kita buat transparan. Dari manual jadi digital, ada record-nya. Yang sembunyi-sembunyi tidak boleh lagi terjadi, semuanya harus terang-benderang!” tegasnya.
Misi Ganda: Amankan Gizi Anak Bangsa, Hidupkan Ekonomi Petani
Sebagai mantan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono membawa amunisi dan sudut pandang berbeda. Bagi pria yang telah dua tahun menyelami seluk-beluk pertanian Indonesia ini, BGN bukan sekadar lembaga bagi-bagi makanan, melainkan mesin penggerak ekonomi rakyat bawah.
Baca Juga: Usai Viral Pamit Salat Lalu Mendadak Resign, Dapur Makan Bergizi Gratis di Blora Mendadak Lumpuh!
Ia menegaskan bahwa triliunan dana APBN yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) berasal dari keringat rakyat, sehingga harus kembali memutar roda ekonomi di tingkat tapak.
“Dana APBN yang besar itu harus beredar di desa-desa. Kami melihat langsung efeknya—bagaimana MBG ini harus menghidupkan perekonomian para petani, peternak, dan penyedia pangan lokal.”
Deklarasi Perang: Zero Tolerance Untuk Korupsi dan 'Copet-Copetan'!
Mengakhiri keterangannya, Sudaryono bersama jajaran pimpinan BGN—termasuk Wakil Kepala Bu Arumsari dan Pak Trenggono—meminta doa restu dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Namun, ia menutupnya dengan sebuah peringatan keras yang membakar semangat:
“Doakan kami semua untuk bisa amanah. Zero tolerance untuk praktik-praktik korupsi, hengki-pengki, dan copet-copetan sebagaimana barangkali ini yang paling dibenci oleh seluruh rakyat Indonesia!”
Baca Juga: Usai Nobar Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Terjaring OTT KPK!
Kini, mata seluruh rakyat Indonesia tertuju pada pundak Sudaryono. Mampukah sang Kepala BGN baru membersihkan 'dapur' BGN dari bayang-bayang penyimpangan dan membuktikan janji besarnya? Waktu yang akan menjawab.